1.081 Ibu Hamil dan 6.927 Balita Mengungsi Akibat Banjir Bandang Aceh Utara

1.081 Ibu Hamil dan 6.927 Balita Mengungsi Akibat Banjir Bandang Aceh Utara
Dampak banjir di Desa Lubok Pusaka Dan Buket Linteung Langkahan Aceh Utara Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul 1.081 Ibu Hamil, dan 6.927 Balita jadi Pengungsi Korban Banjir Bandang Aceh Utara di 25 Kecamatan. - Foto: Dok. Ist

ACEH UTARA – Sebanyak 1.081 ibu hamil dan 6.927 balita masih bertahan di ratusan titik pengungsian yang tersebar di 25 kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November.

Sebagian warga mulai mengungsi pada 26 November 2025, setelah menyelamatkan diri dari derasnya arus banjir bandang.

Berdasarkan data Pusat Informasi Posko Bencana Banjir Aceh Utara per 7 Desember 2025, total ibu hamil dan balita yang kini berada di pengungsian tercatat mencapai angka signifikan, sehingga membutuhkan penanganan kesehatan serta logistik khusus sebagai kelompok rentan.

Dalam laporan yang sama, jumlah warga terdampak dengan kategori rumah terendam mencapai 107.020 kepala keluarga (KK) atau 363.249 jiwa. Sementara itu, warga yang harus mengungsi tercatat sebanyak 85.032 KK atau 304.361 jiwa, yang tersebar di 490 titik pengungsian di berbagai kecamatan.

Kelompok rentan lain juga tercatat cukup tinggi, yakni 4.536 lansia dan 274 penyandang disabilitas, yang membutuhkan pendampingan dan perhatian khusus selama masa tanggap darurat.

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil SE MM, menyampaikan bahwa bencana ini tidak hanya memicu pengungsian massal, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Hingga laporan ini disusun, tercatat 133 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, dan 865 orang luka-luka akibat terseret arus, tertimpa bangunan, maupun kecelakaan saat proses evakuasi. Angka tersebut diperkirakan masih dapat berubah seiring pendataan lanjutan di wilayah yang belum dapat diakses.

Sebagian besar korban luka telah mendapatkan perawatan medis di RSU Cut Meutia, dan beberapa di antaranya sudah diizinkan pulang.

Kerusakan permukiman warga juga sangat masif. Tercatat 84.196 unit rumah terendam, 11.516 unit rusak berat, 4.989 unit rusak sedang, dan 10.594 unit rusak ringan. Ribuan keluarga kini kehilangan tempat tinggal yang layak dan terpaksa bertahan di tenda darurat maupun fasilitas umum yang dijadikan tempat pengungsian.

Di sektor pertanian dan perikanan, bencana ini merendam 14.509 hektare lahan sawah dan berdampak pada 10.653 hektare tambak, sehingga dikhawatirkan mempengaruhi ketahanan pangan serta perekonomian masyarakat dalam jangka panjang.

Kerusakan infrastruktur turut meluas, dengan 432 ruas jalan rusak, ditambah kerusakan pada 12 daerah irigasi, 8 tanggul sungai, 53 jembatan, serta 68 titik drainase.

Sektor pendidikan mengalami dampak berat dengan 383 sekolah terdampak, terdiri dari 271 rusak berat, 97 rusak sedang, dan 15 rusak ringan. Ribuan set alat peraga serta fasilitas belajar turut mengalami kerusakan.

Fasilitas kesehatan juga tidak luput dari bencana. Sebanyak 22 puskesmas terdampak, dengan rincian 5 rusak berat dan 5 rusak ringan, serta 61 pustu yang mengalami kerusakan pada berbagai tingkat. Rumah ibadah, meunasah, dayah, panti sosial, dan balai benih ikan juga ikut terdampak.

Bupati menegaskan bahwa besarnya jumlah pengungsi, terutama dari kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita, membuat kebutuhan logistik, layanan kesehatan, serta hunian sementara menjadi tantangan besar.

Pemerintah kabupaten mengimbau seluruh pihak—pemerintah pusat, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, hingga masyarakat umum—untuk terus memberikan dukungan bagi para korban banjir Aceh Utara.[]