Cegah Penyakit Menular, dr Ferianto Beberkan Strategi Dinkes Aceh Utara
ACEH UTARA – Penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS, DBD, hingga hepatitis, masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Aceh Utara.
Di tengah dinamika penyebaran kasus dan tantangan geografis yang kompleks, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara terus bergerak aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular.
Untuk mengetahui lebih jauh strategi yang dijalankan serta tantangan di lapangan, redaksi melakukan wawancara khusus dengan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Utara, dr. Ferianto.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan berbagai program edukasi, mekanisme kerja tim gerak cepat, hingga peran penting puskesmas dalam deteksi dini dan pelaporan kasus.
Selain itu, dr. Ferianto juga menjelaskan pengaruh hoaks terhadap persepsi masyarakat dan upaya Dinkes dalam menjangkau daerah terpencil.
Berikut petikan lengkap wawancaranya.
Apa program edukasi yang telah dan sedang dijalankan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat?
dr. Ferianto menjelaskan bahwa upaya edukasi berjalan secara multipulatform: melalui media cetak, radio lokal, televisi, media sosial, hingga kampanye langsung di lapangan bersama kader kesehatan dan guru di desa. Edukasi ini mencakup diskusi di Posyandu, Posbindu, kelompok ibu hamil, pelajar, hingga komunitas lokal. Selain itu, untuk kasus tertentu, pihaknya melakukan pendekatan personal — mulai dari pemeriksaan, pengawasan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga pendampingan pasien agar patuh minum obat.
Seberapa besar pengaruh hoaks terhadap persepsi masyarakat tentang penyakit menular?
Menurut dr. Ferianto, hoaks memiliki dampak signifikan negatif. Misalnya, penolakan terhadap imunisasi dasar seperti BCG, yang efektif mencegah TBC, kini menurunkan cakupan imunisasi. Akibatnya, angka TBC pada anak meningkat di Aceh Utara. Hoaks juga memicu ketakutan berlebihan terhadap vaksin atau pelayanan kesehatan lainnya, yang justru melemahkan upaya pencegahan.
Adakah kampanye khusus untuk pencegahan HIV/AIDS, TBC, atau Demam Berdarah Dengue (DBD)?
Ya, Dinkes Aceh Utara menyelenggarakan kampanye khusus seperti peringatan Hari TBC Sedunia dan kegiatan sosialiasi HIV/AIDS terjadwal. Selain itu, ada pendekatan personal per pasien, termasuk pendampingan bagi penderita sejak pemeriksaan, penerapan PHBS, dan pengobatan. Untuk HIV, tim bergerak ke Posyandu, café komunitas, lembaga pemasyarakatan (LP), dan bekerja sama dengan KUA (Kantor Urusan Agama) untuk penyuluhan dan testing berbasis komunitas.
Bagaimana peran puskesmas dalam deteksi dini dan pelaporan kasus?
Puskesmas berperan sebagai lini pertama deteksi. Setiap kasus dideteksi lokal dan langsung dilaporkan ke Dinkes, kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan epidemiologi ke lapangan. Dinkes pun melakukan monitoring melalui diskusi evaluasi rutin antara staf Dinkes dan puskesmas, membahas capaian, kendala, dan permasalahan di masyarakat. Untuk HIV dan DBD, screening dilakukan di posyandu, LP, fasilitas umum, serta bekerja sama lintas instansi agar pantauan lebih menyeluruh dan inklusif.
Apakah Dinas Kesehatan memiliki tim gerak cepat (TGC)? Bagaimana sistem kerjanya?
Dinkes Aceh Utara telah melatih tim TGC yang bekerja sama erat dengan puskesmas. Ketika ada laporan kasus potensi wabah, tim bergerak cepat ke lokasi untuk melakukan penyelidikan, tes, dan penanganan awal. Mekanisme kerja TGC juga mencakup koordinasi langsung dengan petugas puskesmas dan tokoh lokal agar respon cepat dan efektif, serta meminimalkan risiko penyebaran lebih luas.
Apa tantangan utama dalam merespons kasus menular di daerah terpencil atau sulit dijangkau?
Menurut dr. Ferianto, tantangan terbesar ialah akses informasi yang terlambat, dan jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan. Hal ini berdampak pada keterlambatan penanganan dan kesulitan melakukan pengawasan petugas di lapangan. Untuk mengatasi ini, Dinkes melakukan penguatan komunikasi lokal, memperkuat kerja bersama tokoh desa dan kader kesehatan, serta menyediakan layanan mobile atau tematik agar masyarakat terpencil tetap terjangkau. Melalui program edukasi masif, kerja sama lintas sektor, dan pendekatan komunitas berbasis pemangku kepentingan lokal, Dinkes Aceh Utara membuktikan dedikasinya dalam mencegah penyebaran penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS, hepatitis, dan DBD.
dr. Ferianto menegaskan bahwa pencegahan adalah tanggung jawab bersama. Deteksi dini, imunisasi lengkap, hidup bersih, dan kepercayaan terhadap layanan kesehatan adalah kunci utama. Masyarakat diajak proaktif saling menjaga dan memperkuat sistem kesehatan lingkungan.
“Mari bersama menjadi bagian dari gerakan pencegahan. Waspada terhadap informasi palsu, patuhi vaksinasi, dan bantu sebarkan edukasi kesehatan ke keluarga dan lingkungan,” ajak dr. Ferianto. (ADV)

