Sosok Abi Tumpok Teungoh, Ulama Dayah yang Istiqamah Membina Generasi Muda di Lhokseumawe

Sosok Abi Tumpok Teungoh, Ulama Dayah yang Istiqamah Membina Generasi Muda di Lhokseumawe
Abi H. Razali Idris (Abi Tumpok Teungoh), pimpinan Dayah Baitul Mubtadin, Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. - Foto : Dok. Ist

LHOKSEUMAWE – Abi H. Razali Idris atau yang akrab disapa Abi Tumpok Teungoh dikenal luas sebagai salah satu ulama dayah dan tokoh pendidikan Islam di Kota Lhokseumawe. Sosoknya selama ini aktif membina santri dan masyarakat melalui pendidikan agama serta dakwah yang menyejukkan.

Abi Razali Idris memimpin Dayah Baitul Mubtadin yang berada di Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Di bawah kepemimpinannya, dayah tersebut terus berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di kawasan itu.

Dalam perjalanan pendidikannya, Abi Tumpok Teungoh merupakan alumni Dayah Malikussaleh Panton Labu. Beliau juga pernah menimba ilmu langsung kepada ulama kharismatik Aceh, Allahyarham Abu H. Ibrahim Bardan atau yang dikenal sebagai Abu Panton.

Didikan dari Abu Panton turut membentuk karakter dakwah Abi Razali Idris yang dikenal santun, menyejukkan, dan kuat dalam menjaga tradisi keilmuan dayah salafiyah berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Selain memimpin dayah, Abi Tumpok Teungoh juga aktif membina santriwan dan santriwati melalui pengajian kitab kuning, majelis taklim, serta pendidikan akhlakul karimah. Kehadirannya di tengah masyarakat juga dikenal dekat dan sederhana, sehingga sering menjadi tempat bertanya terkait persoalan agama maupun sosial kemasyarakatan.

Bagi masyarakat sekitar, Abi Tumpok Teungoh bukan hanya dikenal sebagai pimpinan dayah, tetapi juga sosok guru yang istiqamah dalam dakwah serta memiliki perhatian besar terhadap pendidikan generasi muda Islam di Aceh.

Dengan konsistensinya dalam menjaga tradisi pendidikan dayah, Dayah Baitul Mubtadin kini terus melahirkan santri-santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak dan adab sesuai nilai-nilai Islam yang diwariskan ulama Aceh terdahulu.[]