Syekh Faizan Abdullah, Empat Dekade Merawat Sejarah Rapai Pase

Syekh Faizan Abdullah, Empat Dekade Merawat Sejarah Rapai Pase
Syekh Dan memeriksa koleksi Rapai Pase di rumahnya di Desa Arongan, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. - Foto : Dok. Ist

ACEH UTARA – Di rumah sederhananya di Desa Arongan, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Syekh Faizan Abdullah atau yang akrab disapa Syekh Dan tetap setia merawat puluhan rapai tua, memainkan syair tradisional, dan menjaga warisan budaya Pase agar tidak hilang ditelan zaman.

 

Selama lebih dari 40 tahun, ia menjadi syekh atau pemimpin Grup Rapai Pase. Bagi Syekh Dan, rapai bukan sekadar alat musik, melainkan identitas budaya yang telah ia dedikasikan sepanjang hidupnya.

 

Warisan Keluarga dan Jejak Tradisi

Selama 41 tahun memimpin Grup Rapai Pase, Syekh Dan telah tampil di berbagai ajang, mulai tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

 

Dedikasinya terhadap Rapai Pase merupakan warisan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Buyutnya, Raja Seuntalon, dikenal sebagai salah satu syekh rapai terkenal di wilayah Pase pada abad ke-18.

 

Dari garis keturunan tersebut, Syekh Dan tumbuh bersama dentuman rapai, syair, dan tradisi meu uroh yang telah hidup ratusan tahun di Aceh.

 

Puluhan Rapai dan Koleksi Bersejarah

Saat ini, Syekh Dan masih menyimpan sekitar 21 Rapai Pase dan belasan rapai geleng atau grempheng di rumahnya.

 

Sebagian merupakan peninggalan lama, sementara lainnya dibeli dari berbagai grup rapai di Aceh Utara dan sekitarnya, seperti Rimueng Krueng, Putro Ijo, Sibrok, Pinto Rimba, Burong Tujoh, Raja Uleu, Peudeung Panyang, dan Manek Rôk.

 

Namun perjalanan menjaga warisan budaya itu tidak selalu mudah. Banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir November 2025 sempat menghanyutkan empat rapai miliknya, termasuk Urot Palet dan Si Rimueng.

 

“Rapai yang hilang dibawa banjir itu juga punya suara khas. Belum ditemukan,” ujar Syekh Dan.

 

Tantangan Menjaga Keaslian Suara Rapai

Meski kehilangan sebagian koleksi, Syekh Dan tetap bertahan menjaga rapai yang tersisa. Sebagian besar kini hanya berupa baloh atau rangka kayu karena sulitnya mendapatkan bahan membran berkualitas.

 

Menurutnya, tidak semua kulit sapi cocok digunakan sebagai membran rapai karena jenis dan kondisi kulit sangat mempengaruhi karakter suara.

 

“Kalau sapi yang disuntik, kulitnya tidak bisa dipakai karena tipis. Kalau terlalu tebal juga mempengaruhi suara,” ujarnya.

 

Keahliannya tidak hanya memainkan rapai, tetapi juga memilih kulit, memasang membran, menjemur, hingga mengerik kulit sebelum dipasang. Pengetahuan itu diwarisinya dari generasi sebelumnya.

 

Rapai Legendaris “Jarum Terbang”

Di antara koleksinya, terdapat satu rapai paling berharga bernama Jarum Terbang atau Jarom Poe. Rapai tersebut diyakini merupakan peninggalan buyutnya, Raja Seuntalon.

 

Pada bagian balohnya masih terlihat bekas hitam akibat pernah dibakar kolonial Belanda, namun tetap bertahan dan menghasilkan suara khas yang diyakini berbeda dari rapai lainnya.

 

Rapai itu dibuat dari akar pohon cibrek atau juar raksasa yang dahulu tumbuh di Desa Arongan. Kayu tersebut dikenal keras dan memiliki resonansi suara yang kuat.

 

“Suara rapai itu seperti meuchop dalam dada orang yang mendengar. Karena itu disebut Jarum Poe atau Jarum Terbang,” kata Syekh Dan.

 

Proses pembuatannya dilakukan secara manual dengan pahatan tangan, kemudian direndam berbulan-bulan dalam lumpur sebagai teknik pengawetan tradisional agar tahan lama.

 

Sekitar tahun 1960-an, rapai tersebut sempat berpindah tangan karena kondisi ekonomi keluarga. Alat musik itu pernah digadaikan di Aceh Timur sebelum akhirnya dijual oleh keluarga.

 

Namun Syekh Dan tidak pernah melupakan suara khas peninggalan buyutnya tersebut. Pencarian panjangnya berakhir pada 1982 ketika ia menemukan kembali rapai itu di salah satu grup rapai di Aceh Utara.

 

“Harganya 10 mayam emas waktu itu. Saya beli tanpa menawar karena sudah lama mencarinya,” ujarnya.

 

Tetap Melestarikan Budaya di Usia Senja

Dalam setiap pertunjukan meu uroh, Syekh Dan biasanya membawa enam rapai andalan yang menghasilkan resonansi suara saling menguatkan.

 

“Kalau dimainkan bersama, suaranya bisa mendengung sampai belasan kilometer,” katanya.

 

Selain Rapai Pase, ia juga mahir memainkan rapai geleng, memahami syair tradisional, hingga seni debus.

 

Meski usianya telah lanjut, ia masih aktif merawat dan melatih generasi muda di Lhoksukon dan sekitarnya.

 

Empat dekade pengabdiannya menjadi bukti bahwa tradisi tidak akan hilang selama masih ada orang-orang yang setia menjaganya.[]