RSUCM Aceh Utara Berkomitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan Melalui Inovasi Sistem Layanan

RSUCM Aceh Utara Berkomitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan Melalui Inovasi Sistem Layanan
Direktur RSUCM Aceh Utara, dr Syarifah Rohaya, Sp.M - Foto : Ist

ACEH UTARA — Dinas Kesehatan Provinsi Aceh melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Kabupaten Aceh Utara, Kamis (22/5/2025), guna melakukan audit layanan Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO). 

Tim disambut oleh Wakil Direktur Bidang Pelayanan dan Penunjang Medik, dr Intan Sahara Zein, Sp.S, Kepala Bidang Layanan Medis dr Abdul Mukti, dr Puspa Ros Fadilla, Sp.P, serta tim Poliklinik dan Ruang Rawat Paru RSUCM.

Kunjungan ini bertujuan meninjau kesiapan dan pengelolaan layanan TB RO, termasuk ruang perawatan baru dan poliklinik paru. 

Audit dilakukan sebagai bagian dari evaluasi kualitas layanan dalam penanganan penyakit infeksi menular, khususnya tuberkulosis yang masih menjadi salah satu penyakit terbanyak di wilayah Aceh Utara.

Direktur RSUCM Aceh Utara, dr Syarifah Rohaya, Sp.M, menjelaskan bahwa jumlah penderita TBC di wilayah tersebut tergolong tinggi.

"TBC masih masuk dalam sepuluh besar penyakit terbanyak yang ditangani RSUCM. Tahun 2023, kami menemukan dan mengobati 1.011 pasien atau 47 persen dari total terduga. Pada 2024, jumlah pasien meningkat menjadi 1.129 orang atau 43 persen dari total pasien terduga," ujarnya.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan, RSUCM menerapkan sistem pemisahan layanan di Poliklinik Paru menjadi dua kategori, yakni Poli Paru Infeksi dan Poli Paru Non-Infeksi.

“Dengan pemisahan ini, kami bisa memberikan perawatan yang lebih terfokus sekaligus meminimalkan risiko penularan antar pasien,” terang dr Intan Sahara Zein, Sp.S. Poli infeksi melayani pasien TBC dan penyakit paru menular lainnya, sementara poli non-infeksi ditujukan untuk pasien dengan gangguan pernapasan non-menular seperti asma.

Di sisi lain, RSUCM juga memperkuat sistem layanan penunjang medis dengan menjalin kerja sama strategis bersama Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Utara, yang berkantor di Kota Lhokseumawe.

"Setiap bulan, kebutuhan darah rumah sakit berkisar antara 500–600 kantong, terutama untuk pasien operasi dan layanan unggulan seperti cuci darah. Seluruh darah disimpan dan dikelola oleh Bank Darah Rumah Sakit (BDRS)," ungkap dr Syarifah.

Ia menegaskan bahwa aspek kecepatan dan kualitas darah menjadi prioritas utama. "Begitu ada permintaan dari dokter, BDRS langsung menghubungi PMI agar kebutuhan darah dapat segera terpenuhi," lanjutnya. 

Kerja sama ini juga memastikan komunikasi antara BDRS dan UTD PMI berjalan lancar tanpa kendala.

Untuk itu, pihak rumah sakit mengimbau masyarakat agar rutin mendonorkan darahnya. 

“Donor darah bukan hanya tindakan kemanusiaan, tapi juga bermanfaat untuk kesehatan tubuh, seperti menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan membantu membakar kalori,” ujar dr Syarifah.[]