Dinkes Aceh Utara Libatkan Guru dan Ustaz Cegah Penyakit Kulit Menular Impetigo

Dinkes Aceh Utara Libatkan Guru dan Ustaz Cegah Penyakit Kulit Menular Impetigo
Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, S.KM., MKes

ACEH UTARA – Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara semakin serius menangani penyebaran penyakit kulit menular yang saat ini mulai mengkhawatirkan, khususnya Impetigo. 

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini sangat mudah menyebar dan menyerang anak-anak, terutama mereka yang tinggal di lingkungan padat atau memiliki sanitasi yang buruk.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, S.KM., MKes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan pola hidup bersih guna mencegah penularan penyakit ini. Dinkes juga mulai melibatkan guru, ustaz, dan tokoh masyarakat sebagai mitra edukasi di lapangan.

“Penyakit Impetigo sangat menular, terutama pada anak-anak. Kami meminta semua pihak, terutama sekolah dan pesantren, ikut ambil bagian dalam mencegah penyebarannya,” ujar Jalaluddin, dalam keterangannya pada Senin (14/7/25). 

Menurutnya, Impetigo merupakan infeksi kulit dangkal yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. 

Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan luka terbuka atau cairan dari lepuhan penderita, dan juga lewat penggunaan barang pribadi secara bersama-sama seperti handuk atau pakaian.

Gejala awal penyakit ini terlihat seperti kemerahan pada kulit yang berkembang menjadi lepuhan berisi cairan. 

Setelah pecah, lepuhan akan meninggalkan kerak berwarna kuning menyerupai madu. Area wajah, mulut, hidung, lengan, dan kaki menjadi lokasi yang paling sering terdampak.

“Yang kami khawatirkan adalah penyebaran cepat di lingkungan padat anak-anak seperti sekolah dan pesantren. Bila tidak ditangani dengan benar, bisa menimbulkan klaster penularan,” tambah Jalaluddin.

Sebagai langkah konkret, Dinas Kesehatan Aceh Utara mulai menjalin kerja sama dengan sekolah, dayah, dan pesantren. 
Para guru, ustaz, dan pengurus lembaga pendidikan diberikan pemahaman mengenai gejala Impetigo dan langkah pencegahan agar mereka dapat menjadi perpanjangan tangan edukasi di lingkungan masing-masing.
“Kami dorong pihak sekolah dan pesantren untuk aktif melakukan edukasi kebersihan diri kepada siswa. Mereka juga kami minta melakukan pemeriksaan ringan secara berkala agar deteksi dini bisa dilakukan,” jelas Samsul Bahri, SKM., MKM., Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Aceh Utara.
Dinas Kesehatan juga memperluas edukasi ke masyarakat melalui posyandu, kader kesehatan, serta balai gampong. 

Materi edukasi mencakup pentingnya tidak berbagi barang pribadi, rajin mencuci tangan, serta menjaga kebersihan tempat tinggal dan fasilitas umum. 

Pencegahan Impetigo menjadi bagian dari program besar Dinkes Aceh Utara dalam pengendalian penyakit menular.

 Melalui penyuluhan di media, kegiatan lapangan, hingga pelatihan bagi kader desa, informasi tentang Impetigo akan terus disebarluaskan.

“Kami ingin membentuk masyarakat yang paham, peduli, dan siap bertindak. Edukasi ini tidak bisa sekali lewat, tapi harus berulang dan menyentuh semua kalangan,” tambah Samsul.

Bagi warga yang menemukan gejala awal Impetigo pada anak atau anggota keluarga lainnya, Dinkes mengimbau untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. 

Penanganan medis yang tepat, seperti pemberian salep antibiotik atau antibiotik oral, sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi dan penularan lebih luas.

Dinas Kesehatan juga menegaskan bahwa peran keluarga sangat penting. Masyarakat diharapkan tidak meremehkan luka kecil atau lepuhan pada kulit anak-anak. Karena jika diabaikan, kondisi tersebut dapat menjadi sumber penularan baru bagi orang lain.

“Kebersihan harus menjadi budaya, bukan sekadar kebiasaan. Kesehatan anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Mulai dari rumah, kita bisa cegah penyakit kulit seperti Impetigo,” tegas Jalaluddin.

Dinkes Aceh Utara pun memastikan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat dalam memberikan edukasi dan layanan kesehatan yang cepat, tepat, dan menyeluruh. 

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan kulit, sekaligus menekan angka penyebaran penyakit menular secara signifikan.

Dengan sinergi antara masyarakat, dunia pendidikan, tokoh agama, dan pemerintah daerah, Aceh Utara optimis mampu menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari penyakit kulit menular.

“Mari bersama kita jaga generasi muda kita dari penyakit. Bersatu untuk kesehatan, bersih untuk masa depan,” pungkas Jalaluddin. (ADV).