Kasus TBC di Aceh Utara Fluktuasi, Bupati Aceh Utara: 50 Persen Kesembuhan dari Berasal dari Pelayanan yang baik
ACEH UTARA – Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM, MKes menegaskan bahwa tingkat kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Aceh Utara masih tergolong tinggi dibandingkan daerah lain.
Hal ini menuntut pelayanan kesehatan yang lebih prima sebagai upaya serius menurunkan angka penularan dan memutus rantai penyebaran penyakit menular tersebut.
Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan, sepanjang kurun waktu empat tahun terakhir angka deteksi dan pengobatan kasus TBC di Aceh Utara mengalami fluktuasi.
Pada tahun 2022, jumlah pasien terkonfirmasi TBC yang berhasil diidentifikasi dan diobati mencapai 1.011 orang (47 %), dari total 6.848 pasien terduga (65 %).
Tahun 2023 menunjukkan angka serupa: 1.010 pasien terdiagnosis mendapat pengobatan (45 %), dari 6.935 terduga kasus (64 %).
Sementara pada 2024, kasus yang berhasil ditangani sedikit meningkat menjadi 1.129 pasien (43 %) dari total 8.411 pasien diduga TBC (66 %).
Hingga medio 2025, tercatat 238 kasus sudah ditemukan dan ditangani (9 %), dari 2.006 terduga pasien.
Dengan latar belakang itu, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayah Wa) menekankan pentingnya pelayanan yang hangat dan manusiawi di fasilitas kesehatan. Ia mengingatkan bahwa sikap ramah petugas ternyata memainkan peran besar dalam proses penyembuhan.
“Belajarlah cara senyum saat pasien tiba. Karena 50 persen kesembuhan berasal dari pelayanan yang baik, serta 30 persen dari pengobatan itu sendiri,” ujar Ayah Wa, sebagai tanggapan atas sejumlah kritikan terhadap kinerja Puskesmas dan RSUD Cut Meutia.
Menurut Jalaluddin, keberhasilan program penanggulangan TBC tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat maupun fasilitas medis, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara petugas kesehatan dan pasien.
Pelayanan yang manusiawi—dengan senyum, empati, dan komunikasi yang baik—dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan yang panjang, dapat mencapai 6–8 bulan.
Bupati Ayah Wa menambahkan, pelayanan prima juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.
Apabila pasien merasa diterima dan dilayani dengan baik, maka mereka akan lebih rajin kembali untuk kontrol lanjutan, secara tidak langsung mendukung keberhasilan terapi.
Menanggapi persentase rendah dalam deteksi kasus TBC, Dinas Kesehatan Aceh Utara saat ini memperluas cakupan program edukasi ke masyarakat mengenai gejala awal TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta cara mencegah penularan di lingkungan keluarga.
Pelayanan screening kini juga digalakkan di Puskesmas secara rutin, terutama untuk kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil, pasien HIV/AIDS, dan anak-anak.
Selain edukasi publik, Dinas mendorong keterlibatan aktif masyarakat serta tokoh lokal, seperti kepala desa, guru, imam dan kader Posyandu, untuk memantau sesama warganya yang batuk selama lebih dari dua minggu.
Pasien yang dicurigai langsung dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium. Pelaporan hasil dilakukan secara berjenjang dari fasilitas kesehatan ke Dinas Kesehatan agar dapat segera ditindaklanjuti.
Wilayah terpencil menjadi tantangan tersendiri, di mana akses ke fasilitas kesehatan masih sulit dan informasi terlambat sampai ke masyarakat.
Untuk itu, Dinas Kesehatan membentuk Tim Gerak Cepat (TGC) yang didukung oleh personel Puskesmas dan kader desa.
Ketika ada desa dengan laporan awal kasus TBC, tim akan langsung turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi, screening massal, hingga penyuluhan door-to-door.
Hal ini menjadi strategi proaktif guna memastikan bahwa deteksi dini bisa dilakukan meskipun lokasi jauh dari pusat layanan kesehatan.
Pelayanan prima, dukungan tokoh dan keluarga, serta sistem pelaporan yang responsif, adalah pilar penting dalam membentuk sistem pengendalian TBC yang efektif.
Dinas Kesehatan Aceh Utara optimis bahwa melalui sinergi seluruh elemen—dinas, masyarakat, sektor pendidikan, dan tokoh agama—angka kasus TBC akan dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
“Kami percaya bahwa kesembuhan fisik diawali dari pelayanan yang menyentuh hati – senyuman dan empati bisa mempercepat proses penyembuhan. Mari kita sebarkan budaya pelayanan positif demi menyudahi TBC di Aceh Utara,” tutup Plt Kepala Dinas Kesehatan, Jalaluddin. (ADV)

