Jejak Rapai Buket Meulinteung, Warisan Leluhur Pase yang Terjaga di Pirak Timu
ACEH UTARA – Di sebuah rumah sederhana di Desa Krueng Pirak, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, tersimpan sebuah rapai tua yang dipercaya telah melintasi beberapa generasi.
Rapai tersebut dikenal dengan nama Rapai Buket Meulinteung, warisan leluhur yang kini dirawat oleh Syekh Ahmad (73), Ketua Grup Rapai Cut Meutia. Bagi masyarakat setempat, rapai itu bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan simbol sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Pase yang diwariskan secara turun-temurun.
Rapai Buket Meulinteung dibuat dari banie atau akar pohon tualang tua yang tumbuh di kawasan perbukitan pedalaman Pase. Akar tersebut dipahat dan dibentuk secara tradisional hingga menjadi badan rapai yang kokoh dan menghasilkan suara khas.
Hingga kini, alat musik itu tetap terawat sebagai saksi perjalanan panjang budaya Rapai di Aceh Utara.
Syekh Ahmad mengaku telah mengenal rapai sejak masih berusia sekitar 10 tahun. Kecintaannya terhadap kesenian tradisional itu tumbuh karena lingkungan keluarga yang erat dengan tradisi Rapai.
“Sejak kecil saya sudah bermain rapai karena alat itu memang sudah ada di rumah,” ujarnya.
Menurut Ahmad, Rapai Buket Meulinteung merupakan peninggalan buyutnya yang dikenal sebagai tokoh masyarakat sekaligus pendukung kegiatan seni rapai pada masanya.
Ia menyebut keluarganya memiliki hubungan kuat dengan tradisi rapai. Ayah dan kakeknya dikenal sebagai pemain rapai, sedangkan buyutnya berperan mendukung berbagai kegiatan budaya, termasuk pembuatan rapai dan penyelenggaraan meuroh atau pertandingan rapai.
“Rapai Buket Meulinteung itu peninggalan nek tu. Beliau sangat dikenal masyarakat karena membantu pembuatan rapai dan kegiatan meuroh,” kata Ahmad.
Ia menjelaskan, pembuatan rapai pada masa lalu dilakukan dengan memanfaatkan akar pohon tualang tanpa harus menebang pohon secara keseluruhan. Cara tersebut menjadi bentuk kearifan masyarakat terdahulu dalam menjaga kelestarian alam.
“Rapai ini bukan dibuat dari batang pohon, tetapi dari akar besar pohon tualang yang tumbuh di perbukitan,” ujarnya.
Menurut Ahmad, tradisi serupa juga melahirkan sejumlah rapai terkenal lainnya di kawasan Pase. Di antaranya Rapai Lhee Larek, Putrou Melince, Aneuk Bude Meuh, dan Tualang Peut Ploh yang masing-masing memiliki sejarah serta karakter tersendiri.
Sebagian rapai tersebut masih tersimpan hingga kini, meski ada juga yang telah berpindah tangan ke daerah lain.
Berdasarkan cerita para orang tua terdahulu, lanjut Ahmad, tradisi rapai berkembang pertama kali di kawasan Pirak Timu sebelum menyebar ke wilayah lain di Pase.
Ia menuturkan, proses pembuatan rapai pada masa lalu membutuhkan waktu panjang karena seluruh pengerjaan dilakukan secara manual di kawasan hutan yang jauh dari permukiman warga. Bahkan, proses tersebut bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga rapai siap digunakan.
Selain mewarisi alat musik tersebut, Ahmad juga mewarisi berbagai kisah mengenai asal-usul rapai. Salah satunya berkaitan dengan penyebaran Islam di Aceh yang diyakini memiliki hubungan dengan dakwah ulama pada masa lampau.
“Cerita itu kami terima dari orang-orang tua terdahulu. Karena diwariskan secara lisan, memang ada beberapa versi, tetapi semuanya berkaitan dengan penyebaran Islam di Aceh,” ujarnya.
Saat ini, Grup Rapai Cut Meutia yang dipimpinnya beranggotakan sekitar 20 orang dari sejumlah gampong di Kecamatan Pirak Timu. Mereka masih aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya, festival seni, hingga pertandingan rapai di sejumlah wilayah Aceh Utara.
Bagi Ahmad, kegiatan meuroh memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi rapai di tengah masyarakat.
“Kalau tidak ada pertandingan dan pertemuan antargrup, budaya ini bisa hilang. Anak-anak sekarang lebih banyak tertarik pada budaya luar dibanding budaya sendiri,” katanya.
Ia mengakui minat generasi muda terhadap seni tradisional mulai berkurang. Karena itu, Ahmad berharap pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat bersama-sama mendokumentasikan sejarah rapai yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan.
“Masih banyak orang tua yang mengetahui sejarah rapai. Jika tidak ditulis, pengetahuan itu akan hilang bersama waktu,” tuturnya.
Di tengah perubahan zaman, Rapai Buket Meulinteung tetap berdiri sebagai penanda sejarah dan warisan budaya masyarakat Pase. Dari sebuah rumah sederhana di Pirak Timu, dentuman rapai tua itu masih menyimpan cerita panjang tentang leluhur, tradisi, dan identitas Aceh yang terus dijaga hingga hari ini.[]

