Syekh Ahmad, Penjaga Warisan Rapai Pase dari Pirak Timu
ACEH UTARA – Tabuhan Rapai hingga kini masih terdengar menggema di Desa Krueng Pirak, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara. Di balik bunyi khas alat musik tradisional tersebut, terdapat sosok Syekh Ahmad A (73), seniman yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga keberlangsungan Rapai Pase, salah satu warisan budaya masyarakat Aceh.
Lebih dari enam dekade, Ahmad terlibat aktif dalam dunia Rapai. Kecintaannya terhadap kesenian tradisional itu tumbuh sejak usia sekitar 10 tahun ketika mulai memainkan Rapai yang telah lama tersimpan di rumah keluarganya.
Rapai tersebut merupakan peninggalan buyutnya yang dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat di kawasan Pirak Timu pada masanya.
“Rapai rumah tersebut peninggalan nek tu (buyut). Kemudian diteruskan oleh kakek saya yang dikenal dengan panggilan Guhat Surat,” ujar Syekh Ahmad.
Sejak saat itu, kehidupannya tidak pernah jauh dari tabuhan Rapai. Ia menekuni berbagai peran, mulai dari pemain, pengrajin, hingga pembina kelompok seni. Kini, meski usianya tidak lagi muda, Ahmad masih aktif memimpin Grup Rapai Cut Meutia yang beranggotakan sekitar 20 orang dari berbagai gampong di Kecamatan Pirak Timu.
Bagi Ahmad, Rapai bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan bagian dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Aceh yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Sebagai pewaris tradisi, ia juga menyimpan berbagai cerita mengenai sejarah perkembangan Rapai di wilayah Pase. Dari para orang tua terdahulu, Ahmad mendengar kisah bahwa Rapai telah berkembang sejak masa penyebaran Islam di Aceh dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Pirak Timu.
Cerita-cerita tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat setempat.
Di antara berbagai jenis Rapai yang pernah dikenalnya, Ahmad memberikan perhatian khusus terhadap Rapai Buket Meulinteung. Menurutnya, Rapai tersebut merupakan salah satu peninggalan tertua yang masih bertahan di kawasan Pirak Timu.
Alat musik itu diwariskan dari generasi sebelumnya dan hingga kini tetap dirawat sebagai simbol warisan budaya keluarga sekaligus masyarakat.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi yang akan mewariskannya kepada anak cucu nanti,” katanya.
Selain aktif memainkan Rapai, Ahmad juga memahami proses pembuatannya. Ia mengetahui bagaimana masyarakat terdahulu memanfaatkan akar pohon tualang sebagai bahan utama pembuatan badan Rapai tanpa harus menebang pohonnya.
Pengetahuan tersebut diperolehnya dari pengalaman langsung serta cerita para sesepuh kampung yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam berbagai kegiatan budaya, Ahmad masih kerap terlibat dalam pertunjukan maupun ajang meuroh atau pertandingan Rapai di sejumlah daerah di Aceh Utara.
Menurutnya, meuroh bukan sekadar ajang untuk meraih kemenangan, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antargrup seni sekaligus menjaga eksistensi Rapai di tengah masyarakat.
“Saya sering menyampaikan jangan marah kalau kalah meuroh. Dalam meuroh bukan hanya mencari menang, tetapi agar dikenal generasi. Kalau karena kalah tidak lagi bermain Rapai, bagaimana kelanjutan budaya ini,” ungkap pria yang akrab disapa Nek Amat tersebut.
Di tengah perjalanannya melestarikan budaya, Ahmad mengakui tantangan terbesar saat ini adalah menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya luar membuat banyak anak muda lebih tertarik pada hiburan modern dibandingkan mempelajari warisan budaya daerahnya sendiri.
“Generasi sekarang tidak suka dengan warisan neneknya, mereka lebih senang dengan budaya orang lain,” ujar Syekh Ahmad.
Karena itu, ia terus mengajak generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai Rapai sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.
Ia berharap warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad tersebut tidak berhenti pada generasinya, melainkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.[]

