Misteri Makam Panjang 12 Meter di Pirak Timu

Misteri Makam Panjang 12 Meter di Pirak Timu
Makam Teungku Ben Panyang Pha, di belakang Mesjid Desa Leupu Kec. Pirak Timu Aceh Utara - Foto : Khadani

ACEH UTARA  – Tepat di belakang Mesjid Leupeu Kecamatan Pirak Timu Aceh Utara, sebuah makam tak biasa menarik perhatian marjinal.id.

Ukurannya tak lazim seperti makam biasa, panjangnya mencapai 12 meter, disamping nisannya tertancap sebuah tongkat besi pendek, konon tongkat ini dulunya relatif panjang namun seiring waktu semakin memendek seolah tenggelam ke dalam tanah. 

Makan ini berada di perbatasan antara desa Meunasah Krueng dan Desa Leupu, masyarakat setempat percaya makam panjang itu adalah makam keramat, yang ceritanya diwariskan secara lisan turun temurun. 

" Itu makam Teungku Ben Panyang Pha, sejak zaman Nek Tu dan kakek buyut kami, nama beliau sudah sering disebut bahkan hingga kini, kisah-kisah tentang beliau masih hidup di tengah masyarakat, karomahnya diyakini sebagian warga, meskipun tak ada catatan pasti kapan beliau hidup ataupun dari mana asalnya” ungkap  tokoh masyarakat Pirak Timu yang juga mengetahui sejarah lisan ini, Tgk H. Usman kepada marjinal.id.

Salah satu cerita yang populer menyebutkan bahwa nama Alue Bungkoh, ibukota Kecamatan Pirak Timu, berkaitan dengan Teungku Ben Panyang Pha.

Konon, suatu ketika beliau menjatuhkan “bungkoh ranup” (bungkusan sirih) di sebuah alur, yang kemudian hari alur tersebut dikenal sebagai Alue Bungkoh.

Kisah lain adalah perkelahian antara Teungku Ben Panyang Pha dengan kakaknya, Tok Bunda yang memunculkan nama Blang Paya Lama di Desa Teupin U namun tidak diketahui persis alasan perkelahian itu.


Nazam yang kerap dibacakan orang tua tentang Tok Bunda berbunyi:
Tok Bunda meu tudong kilet
Han sapue saket ujeun keunong sa
Jak u blang hana pue daleh
Si gunca bijeh laen peunula
Keubue lam weu hana pue tanyeng
100 inong laen yang dara

Menurut Tgk H. Usman, Tok Bunda digambarkan sebagai sosok sakti dan kaya raya.

 “Dulu katanya ia punya rumah beratap kulit kerbau dan sawah yang luas sekali. Bahkan ada cerita anaknya diculik buaya di Alue Thoe, yang akhirnya membuat sungai itu menjadi kering,” ceritanya. 

Kisah buaya ini menjadi salah satu legenda yang paling banyak diceritakan. 

Karena murka, Tok Bunda menyiram sungai tersebut dengan padi yang melimpah hingga airnya surut (thoe).

Sejak saat itu wilayah itu dikenal sebagai Alue Thoe. Meski kini alurnya kembali berair, pantangan untuk tidak membuang Tukok U (pelepah kelapa) dan Boh Kruet (jeruk perut) ke sungai masih dipegang teguh warga.

Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga menyelami warisan cerita yang menjadi identitas masyarakat Pirak Timu. 

Kisah-kisah ini, entah benar atau tidak, adalah bagian dari memori kolektif yang menjaga rasa hormat terhadap leluhur.

Tak banyak catatan tentang Teungku Ben Panyang Pha, selain pusaranya yang aneh karena panjangnya tak lazim dan kisah tutur dari generasi ke generasi, semoga ada upaya peneliti, pemerintah atau siapapun yang berkepentingan untuk menggali lebih dalam tentang kisah ini sehingga menjadi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan danbtidak hanya menjadi  legenda yang di hanya menjadi milik warga setempat. 

Semoga generasi mendatang yang mau menjaga cerita ini tetap hidup atau ia akan hilang bersama sunyi makam panjang itu. []