BI Gandeng Guru Bireuen Perluas Edukasi Rupiah hingga Ruang Kelas

BI Gandeng Guru Bireuen Perluas Edukasi Rupiah hingga Ruang Kelas
Training of Trainer (ToT) Kebanksentralan dan CBP Rupiah di Kabupaten Bireuen, Sabtu (3/10/26). - Foto : Dok. Ist

Bireuen — Bank Indonesia (BI) menggandeng guru se-Kabupaten Bireuen untuk memperluas edukasi tentang kebanksentralan serta Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah hingga ke ruang kelas.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) Kebanksentralan dan CBP Rupiah yang digelar di Bireuen, Sabtu (3/10/26).

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yan Ramerta Putra, hadir dalam kegiatan tersebut. Turut hadir Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Pemprov Aceh Wilayah Kabupaten Bireuen Yusnita, S.E.Ak., S.Pd., M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen Dr Muslim, M.Si., serta perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bireuen.

Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman kepada guru mengenai kebanksentralan dan Rupiah, tetapi juga mendorong mereka menjadi penghubung edukasi Bank Indonesia dengan generasi muda dan masyarakat.

Dalam sambutan Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe yang disampaikan pada kegiatan itu disebutkan, Bank Indonesia tidak mungkin hadir secara langsung di setiap sekolah dan lingkungan masyarakat. Karena itu, diperlukan mitra yang mampu menyampaikan edukasi secara dekat dan berkelanjutan.

“Salah satu mitra yang sangat strategis adalah Bapak dan Ibu Guru,” demikian pesan dalam sambutan tersebut.

Menurutnya, guru memiliki posisi penting karena setiap hari berinteraksi dengan generasi muda. Pengetahuan yang diberikan di ruang kelas juga dapat dibawa siswa ke rumah dan diteruskan kepada orang tua serta lingkungan sekitarnya.

Melalui kegiatan ToT, para guru diharapkan tidak hanya memahami materi kebanksentralan dan CBP Rupiah, tetapi juga mampu menyampaikannya kembali kepada siswa dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

“Kami tidak mengharapkan Bapak dan Ibu menjadi ahli ekonomi atau ahli kebanksentralan. Yang kami harapkan adalah Bapak dan Ibu menjadi edukator yang mampu menyampaikan pesan penting Bank Indonesia dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.

Edukasi mengenai Rupiah juga diarahkan pada kebiasaan sederhana dalam memperlakukan uang. Di antaranya tidak melipat, mencoret, meremas, menstaples maupun membasahi uang Rupiah, serta mengenali keasliannya melalui metode Dilihat, Diraba, dan Diterawang (3D).

Di tengah derasnya arus informasi digital, peran guru dinilai semakin penting. Berbagai informasi mengenai ekonomi, sistem pembayaran, Rupiah dan Bank Indonesia kini mudah ditemukan, namun tidak semuanya dapat dipahami dengan benar.

Guru diharapkan menjadi salah satu sumber informasi yang dipercaya siswa sekaligus membantu mereka memahami perkembangan teknologi dan sistem pembayaran secara bijak.

Rantai edukasi yang dibangun melalui program tersebut mencakup Bank Indonesia kepada guru, guru kepada siswa, kemudian siswa membawa pengetahuan tersebut kepada keluarga dan masyarakat.

“Dari Bank Indonesia kepada guru, dari guru kepada siswa, dan dari siswa kepada keluarga dan masyarakat. Inilah efek yang ingin kita bangun bersama,” demikian pesan dalam sambutan Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe.

Melalui kegiatan tersebut, BI berharap semakin banyak Guru Agen Edukasi Kebanksentralan dan CBP Rupiah yang aktif memberikan pemahaman kepada siswa di sekolah masing-masing.

Dengan demikian, edukasi tentang Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi terus bergerak dari ruang kelas hingga keluarga dan masyarakat di Kabupaten Bireuen.[]