Ratusan Rumah Guru dan Ribuan Siswa SMA di Aceh Utara Terdampak Banjir, Sekolah Belum Bisa Difungsikan

Ratusan Rumah Guru dan Ribuan Siswa SMA di Aceh Utara Terdampak Banjir, Sekolah Belum Bisa Difungsikan
Guru membersihkan lumpur dalam ruangan sekolah yang dibawa banjir bandang pada 26 November 2025 lalu. - Foto : Dok. Ist

ACEH UTARA — Ratusan rumah guru serta ribuan siswa SMA dan sederajat di Kabupaten Aceh Utara dilaporkan terdampak banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025. Akibat bencana tersebut, sebagian guru dan siswa hingga kini masih mengungsi, sementara lainnya terpaksa menumpang di rumah sanak keluarga.

Selain berdampak pada permukiman, banjir juga melumpuhkan aktivitas pendidikan. Hingga Selasa (23/12/25), sejumlah sekolah belum dapat difungsikan karena halaman dan ruang belajar masih dipenuhi lumpur dengan ketebalan bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga satu meter.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Johan, M.Pd., menyebutkan bahwa dari total 87 SMA dan sederajat di Aceh Utara, sebanyak 67 sekolah terendam banjir.

“Proses pembersihan masih berlangsung. Baru sekitar 30 persen halaman sekolah yang berhasil dibersihkan dari lumpur dengan ketebalan mencapai 50 sentimeter hingga satu meter,” ujar Muhammad Johan, Selasa (23/12/25).

Ia menjelaskan, kondisi ruang belajar di sejumlah sekolah masih dipenuhi lumpur setinggi 30 hingga 50 sentimeter. 

Kerusakan yang ditimbulkan pun cukup parah, meliputi buku pelajaran, meja dan kursi siswa, komputer, laptop, perangkat elektronik, hingga meja guru yang rusak dan tenggelam akibat banjir.

“Dalam banyak kasus, hanya bangunan sekolah yang tersisa, sementara seluruh isi di dalamnya mengalami kerusakan berat. Kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 2 miliar per sekolah, bahkan bisa lebih untuk sekolah yang juga mengalami kerusakan pagar dan fasilitas penunjang,” katanya.

Meski demikian, semangat gotong royong terlihat dalam proses pemulihan. Siswa dari sekolah yang tidak terdampak banjir turut membantu membersihkan sekolah-sekolah yang terendam, bersama para guru dan kepala sekolah. Proses pembersihan juga melibatkan unsur TNI, Polri, serta mahasiswa dari Kampus UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Dari sisi sosial, dampak banjir juga sangat besar. Dari total sekitar 14 ribu siswa SMA sederajat di Aceh Utara, lebih dari 10 ribu siswa terdampak langsung. Selain itu, sebanyak 109 guru dilaporkan kehilangan rumah, sementara 775 siswa tidak lagi memiliki tempat tinggal akibat banjir.

Saat ini, para guru dan siswa tersebut mengungsi di pos pengungsian atau tinggal sementara di rumah keluarga. Jumlah guru SMA sederajat di Aceh Utara sendiri tercatat sekitar 3.000 orang.

Terkait proses penilaian akademik, Dinas Pendidikan Aceh menginstruksikan agar penilaian rapor semester ganjil tetap dilaksanakan dengan menggunakan portofolio keseharian siswa, mengingat banyak sekolah belum dapat digunakan secara optimal.

“Sebagian sekolah sudah membagikan rapor, namun masih banyak yang tertunda karena kondisi ruang belajar belum memungkinkan,” ujar Muhammad Johan.

Ia menambahkan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh sekolah untuk saling membantu dalam proses pembersihan pascabanjir. Untuk sekolah yang ruang belajarnya belum dapat digunakan, pembelajaran pada semester genap mendatang akan dilakukan dengan memanfaatkan tenda darurat.

“Untuk tenda darurat masih kita tunggu,” katanya.[]