Lhok Pungki, Dusun Pedalaman Aceh Utara Hilang Disapu Banjir Bandang

Lhok Pungki, Dusun Pedalaman Aceh Utara Hilang Disapu Banjir Bandang
Akses jalan darat di kawasan Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara tertimbun longsor sehingga harus menggunakan alat berat untuk membukanya kembali. - Foto : Dok. Ist

ACEH UTARA – Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, dilaporkan hilang setelah banjir bandang menerjang kawasan tersebut pada 26 November 2025. Hingga Sabtu (6/12/25), daerah pedalaman itu masih terisolasi total akibat akses jalan darat tertimbun longsor.

Putusnya jalur darat membuat seluruh aktivitas menuju dusun tersebut hanya bisa ditempuh lewat sungai menggunakan rakit, menyeberangi Krueng Sawang. Pengiriman bantuan logistik dan bahan pangan pun terpaksa dialihkan melalui jalur air yang memiliki risiko tinggi.

Anggota DPRK Aceh Utara asal Kecamatan Sawang, Abuzar ST, mengatakan saat ini hanya ada dua jalur untuk mencapai lokasi: melalui sungai menggunakan rakit atau memutar lewat Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.

“Untuk tembus ke dusun itu sekarang hanya bisa lewat rakit. Alternatif lainnya lewat Makmur, Gandapura, Bireuen. 

Bahkan kemarin bantuan sempat diantar menggunakan helikopter,” ujar Abuzar.

Ia menyebutkan, warga Lhok Pungki kini masih mengungsi ke dusun-dusun terdekat yang lebih aman. Selain itu, jaringan listrik di kawasan tersebut rusak parah, membuat warga telah lebih dari dua pekan hidup tanpa penerangan.

“Akses seluler juga padam. Ini sangat menyulitkan kita mengetahui kondisi mereka di sana,” tambahnya.

Menurut Abuzar, Lhok Pungki selama ini dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas galian C. Letaknya yang berada di pinggir sungai membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap banjir bandang. “Dusun ini selama ini menjadi salah satu penyumbang material galian C untuk pembangunan. Karena itu, kami berharap perhatian serius dan bantuan langsung dari pemerintah pusat,” tegasnya.

Di sisi lain, salah seorang warga korban banjir, Hastia Mauliza (22), mengaku rumahnya hancur diseret arus sungai. Ia bersama keluarganya berhasil selamat setelah berlari ke tempat yang lebih tinggi sesaat setelah mendengar suara gemuruh air dari Krueng Sawang.

“Rumah kami hancur dibawa sungai. Beruntung kami bisa melarikan diri. Yang selamat hanya satu handphone dan baju di badan,” ujar mahasiswi Universitas Malikussaleh itu.

Banjir bandang tersebut meratakan puluhan rumah di dusun itu. Sudah lebih dari sepuluh hari warga hidup tanpa listrik dan tanpa sinyal telepon. Saat ini ratusan warga Lhok Pungki sangat membutuhkan bantuan bahan pangan, pakaian, terpal, serta obat-obatan.

“Sekarang kami hanya tinggal baju di badan. Kami sangat berharap dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia,” kata Hastia. []