Blok Andaman: Berkah atau Ancaman? HMI Lhokseumawe–Aceh Utara Gelar Diskusi Kritis

Blok Andaman: Berkah atau Ancaman? HMI Lhokseumawe–Aceh Utara Gelar Diskusi Kritis
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara menggelar diskusi publik bertajuk “Blok Andaman. - Foto : Dok. Penulis

Lhokseumawe — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara menggelar diskusi publik bertajuk “Blok Andaman: Tantangan dan Harapan dari Perspektif Mahasiswa” di Sekretariat Insan Cita HMI, Aula Lantai 2, Lhokseumawe, Minggu (12/4/26) pukul 14.00 WIB.

Kegiatan ini menjadi ruang dialektika bagi mahasiswa untuk membahas potensi dan tantangan pengelolaan Blok Andaman sebagai salah satu aset strategis nasional di sektor energi. Diskusi diikuti oleh mahasiswa, kader HMI, serta peserta umum yang memiliki perhatian terhadap isu energi dan pembangunan daerah, khususnya di Aceh.

Hadir sebagai narasumber, T.M. Farhan Akbar, S.Tr.T, Instrument Technician TPC PGE yang juga Ketua Bidang Energi, Migas dan Minerba HMI Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara, serta Ir. Dicky Risky, S.ST., M.T, SRU Supervisor Pertamina Hulu Energi NSO.

Dalam diskusi tersebut, berbagai aspek dikupas, mulai dari peluang ekonomi, tantangan teknologi, hingga potensi dampak sosial yang dapat ditimbulkan bagi masyarakat sekitar. Suasana diskusi berlangsung dinamis, ditandai dengan pemaparan materi yang komprehensif serta sesi tanya jawab yang interaktif.

Ketua Umum HMI Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara, Surya Distamura, S.Pd., M.Pd, mengatakan Blok Andaman tidak dapat dipandang semata sebagai potensi energi.

“Blok Andaman bukan hanya soal sumber energi, tetapi juga menyangkut bagaimana dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh. Mahasiswa harus berperan sebagai kontrol sosial agar pengelolaannya berjalan transparan, adil, dan berpihak pada rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Ir. Dicky Risky menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia lokal dalam menghadapi perkembangan industri migas.

"Pengembangan Blok Andaman membuka peluang besar, namun juga menghadirkan tantangan, terutama pada aspek teknologi dan kompetensi. Sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah sangat diperlukan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton,” katanya.

Di sisi lain, T.M. Farhan Akbar menilai Blok Andaman merupakan momentum strategis bagi kebangkitan sektor energi di Aceh yang harus dikawal secara kritis.

“Ini peluang besar yang tidak datang dua kali. Namun tanpa perencanaan matang dan pengawasan kuat, potensi tersebut bisa tidak optimal. Mahasiswa harus aktif mengawal kebijakan sekaligus menyiapkan kapasitas diri agar mampu terlibat langsung di industri migas,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, HMI Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara berharap dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kritis mahasiswa serta melahirkan gagasan solutif dalam mewujudkan pengelolaan energi yang adil dan berkelanjutan di Aceh.[]