Ribuan Sambungan Air Bersih Warga Aceh Utara Rusak dan Tertimbun Pascabencana Banjir

Ribuan Sambungan Air Bersih Warga Aceh Utara Rusak dan Tertimbun Pascabencana Banjir
Petugas Perumda Tirta Pase Aceh Utara memperbaiki pipa yang rusak akibat diterjang banjir bandang. - Foto : Dok. Ist

Aceh Utara - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Pase Aceh Utara mencatat puluhan ribu sambungan rumah (SR) terdampak akibat bencana banjir besar yang melanda wilayah tersebut. Dampaknya bervariasi, mulai dari sambungan hilang, rusak, hingga tertimbun material banjir.

Kerusakan jaringan air bersih tersebut terjadi akibat banjir yang menerjang 25 dari 27 kecamatan di Aceh Utara pada 26 November 2025 lalu.

Direktur Utama Perumda Tirta Pase Aceh Utara, Imran, ST, MSM, menyebutkan total sambungan rumah terdampak mencapai 47.139 SR. Dari jumlah tersebut, 65 SR dilaporkan hilang, 1.649 SR mengalami kerusakan, 6.931 SR tertimbun atau terendam banjir, serta 6.454 SR tidak dapat dialiri air akibat gangguan distribusi.

Di wilayah Barat Aceh Utara, sambungan rumah terdampak tercatat sebanyak 17.923 SR. Rinciannya, 50 SR dinyatakan hilang, 262 SR rusak, 1.607 SR tertimbun, dan 2.270 SR tidak mendapatkan aliran air bersih.

“Dampak paling signifikan terjadi di Unit Pelayanan Krueng Mane, di mana banyak pipa distribusi mengalami putus,” kata Imran.

Ia menjelaskan, pipa distribusi berdiameter 6 hingga 10 inci rusak di sejumlah titik, di antaranya Mane Tunong, Pante Gurah, Tanoh Anoe, Dewantara, Banda Baro, dan Paloh Raya.

Selain itu, Unit Pelayanan Tanah Pasir dan Unit Pelayanan Geudong juga mengalami kerusakan cukup parah akibat kebocoran dan putusnya pipa distribusi di sejumlah desa. Kondisi tersebut mengakibatkan terganggunya pasokan air bersih ke rumah warga.

Sementara itu, di wilayah Timur Aceh Utara, dampak banjir tercatat lebih besar dengan total 29.216 SR terdampak. Dari jumlah tersebut, 15 SR hilang, 1.387 SR rusak, 5.324 SR tertimbun, serta 4.184 SR tidak dapat dialiri air.

Unit Pelayanan Lhoksukon dan Baktiya menjadi wilayah dengan jumlah sambungan rumah tertimbun terbanyak akibat genangan air dan sedimentasi banjir.

Di Unit Pelayanan Panton Labu, kondisi masih dalam status darurat karena instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) belum dapat beroperasi secara optimal. Meski demikian, empat desa telah kembali mendapatkan suplai air bersih melalui bantuan booster dari Matang Bayu.

Direktur Perumda Tirta Pase menegaskan pihaknya terus melakukan perbaikan jaringan, pendataan lanjutan, serta normalisasi pipa distribusi yang rusak dan tertimbun. Perbaikan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan wilayah terdampak terparah dan jumlah pelanggan terbanyak.

“Petugas di lapangan terus bekerja maksimal untuk mempercepat pemulihan layanan air bersih, meskipun masih menghadapi kendala medan dan cuaca,” ujarnya.

Perumda Tirta Pase juga mengimbau masyarakat untuk bersabar serta segera melaporkan apabila masih ditemukan kebocoran atau gangguan aliran air.

“Pemulihan layanan air bersih menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal,” pungkas Imran.[]