19 Desa di Pirak Timu Terendam Banjir, Ribuan Warga Terdampak
ACEH UTARA — Sebanyak 19 desa di Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, terendam banjir sejak Rabu, 26 November 2025, akibat hujan lebat berkepanjangan dan meluapnya aliran sungai di wilayah tersebut. Hingga Selasa, 2 Desember 2025, sebagian desa masih tergenang air, terutama di kawasan yang berada di hilir sungai dan cekungan permukiman.
Desa-desa yang terendam banjir antara lain Desa Bungong, Glumpang, Beuracan Rata, Asan Krung Kreh, Tring Krung Kreeh, Rengkam, Ketapang, Bili Baro, Lung Jalo, Ceumecet, Leupe, Menasah Krung Pirak, Matang Keh, Rayeuk Pange, Tanjong Seureukuy, Meunye Tujoh, Alue Bungkoh, Pucok Alue, dan Teupin U.
Menurut laporan resmi Kecamatan Pirak Timu per 2 Desember 2025, banjir telah berdampak pada 2.665 kepala keluarga atau 10.209 jiwa.
Sebanyak 10 titik pengungsian masih aktif menampung warga yang tidak dapat kembali ke rumah karena genangan air belum surut dan lumpur masih memenuhi halaman serta ruang dalam rumah.
Hingga laporan terbaru ini, tidak ada korban meninggal dunia, luka-luka, maupun hilang dari wilayah Pirak Timu.
Sementara itu, data kerusakan infrastruktur menunjukkan 5 rumah rusak berat, sedangkan kategori rusak sedang dan ringan masih dalam proses pendataan oleh petugas gabungan.
Selain kerusakan rumah, terdapat 9 desa yang masih terisolir, sehingga akses bantuan dan evakuasi membutuhkan perahu dan jalur alternatif. Kondisi ini membuat penyaluran logistik menjadi tidak merata.
Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah makanan ringan, air bersih, dan stok beras, yang menurut laporan kecamatan belum memadai untuk memenuhi kebutuhan ribuan warga yang terdampak.
Pernyataan Camat Pirak Timu Camat Pirak Timu, Julfar Abdar, S.STP., M.A.P, menyampaikan bahwa banjir kali ini merupakan salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebagian desa sudah mulai surut, namun banyak rumah warga yang masih terendam di bagian halaman dan dalam rumah. Kondisi ini membuat mereka belum bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” ujar Julfar.
Ia menambahkan bahwa proses pendataan dan penyaluran bantuan terus dilakukan namun terkendala akses.
“Ada sembilan desa yang masih terisolir. Tim kami bersama relawan berupaya menembus lokasi tersebut untuk memastikan bantuan logistik sampai ke warga. Saat ini stok makanan ringan dan beras masih kurang, sehingga kami sangat berharap dukungan tambahan dari pemerintah kabupaten dan pihak-pihak dermawan,” tambahnya.
Julfar juga mengingatkan warga untuk tetap waspada karena potensi hujan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. []

