Peternak Aceh Utara Rugi Rp130 Miliar, Lebih 131 Ribu Ekor Ternak Mati Diseret Banjir
ACEH UTARA — Kerugian yang dialami peternak di Kabupaten Aceh Utara akibat bencana banjir diperkirakan mencapai Rp130,1 miliar. Kerugian tersebut berasal dari kematian ribuan ekor ternak yang terseret banjir di 27 kecamatan terdampak.
Data sementara Dinas Perkebunan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Aceh Utara mencatat, sebanyak 9.458 ekor sapi dilaporkan mati dan 129 ekor hilang. Dengan estimasi harga rata-rata Rp10 juta per ekor, kerugian dari ternak sapi mencapai sekitar Rp95,87 miliar.
Selain sapi, sebanyak 197 ekor kerbau juga mati terseret banjir. Dengan estimasi harga yang sama, kerugian dari ternak kerbau mencapai sekitar Rp1,97 miliar.
“Pada kelompok ternak kecil, dampak kerugiannya juga sangat besar,” ujar Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM atau yang akrab disapa Ayahwa, Selasa (23/12/25).
Ia merinci, sebanyak 15.017 ekor kambing mati dengan estimasi harga Rp1,5 juta per ekor, sehingga total kerugian mencapai sekitar Rp22,52 miliar. Sementara itu, 3.030 ekor domba juga dilaporkan mati, dengan nilai kerugian diperkirakan sekitar Rp4,54 miliar.
Bencana banjir juga berdampak serius pada sektor unggas. Data sementara mencatat, sebanyak 67.556 ekor ayam dan 36.328 ekor itik mati akibat terendam banjir dan kekurangan pakan.
“Dengan asumsi harga rata-rata Rp50 ribu per ekor, kerugian dari ayam mencapai sekitar Rp3,37 miliar, sedangkan itik sekitar Rp1,81 miliar,” kata Ayahwa.
Jika diakumulasikan, total kerugian peternak akibat kematian ternak mencapai sekitar Rp130 miliar. Angka tersebut belum termasuk kerugian akibat ternak hilang, rusaknya kandang dan peralatan peternakan, stok pakan yang hancur, serta potensi penurunan pendapatan peternak dalam jangka panjang.
“Karena itu, peternak kami sangat berharap adanya intervensi dan bantuan dari pemerintah pusat,” ujar Ayahwa.
Ia berharap dukungan tersebut dapat berupa kompensasi ternak mati, bantuan bibit ternak, penyediaan pakan darurat, serta layanan kesehatan hewan, agar para peternak dapat kembali bangkit dan melanjutkan usaha peternakan pascabanjir.[]

