Ayahwa Paparkan Kebutuhan Mendesak Pengungsi Banjir Aceh Utara di DPR RI

Ayahwa Paparkan Kebutuhan Mendesak Pengungsi Banjir Aceh Utara di DPR RI
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil SE MM saat melaporkan kondisi banjir di Aceh Utara dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana Sumatera yang digelar di DPR RI, Selasa (30/12/25). - Foto : Dok. Ist

Aceh Utara - Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil SE MM menyampaikan secara langsung berbagai kebutuhan mendesak pengungsi banjir di wilayahnya dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana Sumatera yang berlangsung di DPR RI, Selasa (30/12/25).

Dalam forum tersebut, Ismail yang akrab disapa Ayahwa menegaskan bahwa hingga saat ini pemulihan pascabencana banjir besar akhir November lalu belum sepenuhnya berjalan optimal. Sejumlah wilayah Aceh Utara masih mengalami gangguan listrik dan jaringan telekomunikasi, yang berdampak langsung terhadap kehidupan warga, khususnya di lokasi pengungsian.

“Yang pertama sekali, listrik dan jaringan Telkom belum normal. Kemudian kebutuhan pengungsi, terutama kompor gas atau elpiji lima kilogram,” ujar Ayahwa di hadapan pimpinan dan anggota DPR RI.

Selain persoalan listrik dan komunikasi, Ayahwa juga menyoroti keterbatasan logistik, layanan kesehatan, serta ketersediaan obat-obatan di pos-pos pengungsian. Ia menilai kondisi tenda yang digunakan warga masih belum layak dan membutuhkan peningkatan fasilitas.

“Kemudian logistik dan obat-obatan, serta tenda. Selama ini masyarakat masih berada di tenda biasa,” katanya.

Lebih lanjut, Ayahwa menjelaskan bahwa sejumlah wilayah masih terisolasi akibat dampak banjir, sehingga distribusi bantuan memerlukan sarana transportasi air. Pemerintah daerah juga membutuhkan dukungan air bersih dan alat berat untuk percepatan penanganan dan pemulihan.

“Kami juga membutuhkan boat untuk mengantar logistik ke kawasan terisolir seperti di Serah Raja dan Dusun Selemah. Selain itu, kebutuhan air bersih dan alat berat sangat mendesak,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Ayahwa menyampaikan bahwa dampak banjir di Aceh Utara tergolong sangat luas. Dari 27 kecamatan dengan total 852 desa, sebanyak 25 kecamatan dan 696 desa terdampak banjir atau sekitar 81 persen wilayah kabupaten.

“Jumlah warga terdampak mencapai 124.000 kepala keluarga atau sekitar 433.000 jiwa. Sementara pengungsi tercatat 19.000 KK atau 67.876 jiwa,” jelasnya.

Ia juga melaporkan jumlah korban akibat bencana tersebut, yakni 213 orang meninggal dunia, enam orang masih dinyatakan hilang, serta 2.127 orang mengalami luka-luka.

Dari sisi kerusakan, puluhan ribu rumah warga terdampak, baik terendam, rusak, hingga hilang terseret arus banjir. Selain itu, sektor pertanian dan perikanan ikut mengalami kerugian besar akibat ribuan hektare sawah dan tambak terendam.

Rilis ini sekaligus menjadi bentuk penegasan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara kepada pemerintah pusat agar penanganan dan pemulihan pascabencana banjir mendapat dukungan serius dan berkelanjutan.[]