Piasan Pase 2026, Delapan Abad Aceh Utara dalam Jejak Sejarah dan Budaya

Piasan Pase 2026, Delapan Abad Aceh Utara dalam Jejak Sejarah dan Budaya
Bupati Aceh Utara H Ismail A Jalil SE MM atau akrab disapa Ayah Wa. - Foto : Dok. Ist

Aceh Utara - menyiapkan rangkaian Piasan Pase 2026 untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-800 Kabupaten Aceh Utara. Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, 7-13 September 2026, itu akan memadukan sejarah Samudera Pasai, seni tradisional, kuliner, kegiatan keagamaan, aksi sosial, hingga promosi potensi daerah.

Pusat kegiatan dipusatkan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon.

Namun, rangkaian peringatan delapan abad tersebut diawali pada Minggu, 6 September 2026, dengan ziarah ke kompleks makam Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasiyah di Kecamatan Samudera.

Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil SE MM, atau yang akrab disapa Ayah Wa, mengatakan, usia 800 tahun bukan sekadar angka, melainkan gambaran perjalanan panjang sebuah kawasan yang memiliki jejak sejarah penting.

“Delapan ratus tahun bukan sekadar angka. Akan tetapi, perjalanan panjang sebuah peradaban yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah Aceh, Nusantara, bahkan dunia,” katanya, Jumat (4/9/2026).

Ziarah tersebut akan diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, Samadiyah dan tahlil. Pada hari yang sama juga dijadwalkan Rapat Paripurna Istimewa DPRK Aceh Utara.

Rangkaian pembuka itu menjadi penanda bahwa peringatan Harlah ke-800 Aceh Utara tidak hanya diarahkan sebagai perayaan, tetapi juga momentum mengenang jejak sejarah yang berkaitan dengan kawasan Samudera Pasai.

Upacara Puncak dan Pertunjukan Kolosal

Memasuki 7 September 2026, Piasan Pase memasuki agenda utama Harlah ke-800 Aceh Utara.

Pada hari tersebut dijadwalkan upacara puncak Harlah, pembukaan expo, serta pertunjukan kolosal yang melibatkan 800 penampil Rapa’i Pase.

Penyambutan Menteri Kebudayaan RI bersama rombongan dari Jakarta juga masuk dalam agenda yang disiapkan Pemkab Aceh Utara.

Pertunjukan Rapa’i Pase menjadi salah satu bagian yang menonjol karena membawa seni tradisional daerah ke panggung perayaan delapan abad Aceh Utara.

Selain menjadi hiburan, pertunjukan tersebut diharapkan memperlihatkan kekayaan tradisi dan kebudayaan yang tumbuh serta berkembang di kawasan Pase.

Festival Kuliner 27 Kecamatan

Rangkaian kegiatan berlanjut pada 8 September melalui agenda kuliner.

Sebanyak 27 kecamatan di Aceh Utara dijadwalkan ambil bagian dalam Festival dan Lomba Kuliner Kenduri Kuah Kari Pase.

Festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat dari berbagai kecamatan untuk menampilkan kekayaan kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh Utara.

Pada hari yang sama juga dijadwalkan seminar dan lomba peradilan adat serta kegiatan yang berkaitan dengan Museum Pase.

Dengan demikian, kuliner tidak hanya ditempatkan sebagai agenda hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan kembali tradisi dan kekayaan budaya masyarakat Aceh Utara.

Pertanian, Mitigasi Bencana dan Drama Sejarah

Pada 9 September, kegiatan berlanjut dengan sejumlah agenda yang menggabungkan sektor pertanian, mitigasi bencana, olahraga tradisional dan sejarah.

Di antaranya Expo Inovasi Pertanian dan Mitigasi Bencana, lomba olahraga tradisional, serta pementasan drama sejarah Sultan Malik Al-Shaleh.

Pementasan drama tersebut menjadi salah satu upaya membawa sejarah ke ruang pertunjukan agar lebih mudah dinikmati masyarakat, khususnya generasi muda.

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa Piasan Pase 2026 tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga memuat unsur edukasi, sejarah, pertanian dan kebudayaan.

Nuansa Keagamaan dan Kepedulian Sosial

Nuansa keagamaan dan sosial mendapat porsi pada 10 September 2026.

Sejumlah kegiatan keagamaan dijadwalkan berlangsung, seperti lomba baca kitab kuning, Fahmil Qur’an dan Syarhil Qur’an.

Pemkab Aceh Utara juga menyiapkan santunan bagi 800 anak yatim sebagai bagian dari rangkaian peringatan Harlah ke-800.

Pada malam harinya dijadwalkan berlangsung Malam Dzikir Akbar dan Shalawat.

Kegiatan tersebut memberikan warna berbeda dalam rangkaian Piasan Pase dengan menempatkan aspek keagamaan dan kepedulian sosial sebagai bagian dari perayaan hari lahir daerah.

Gotong Royong, Donor Darah dan Penanaman Pohon

Rangkaian berlanjut pada 11 September melalui kegiatan gotong royong, donor darah serta penanaman 800 pohon.

Agenda tersebut kemudian dipadukan dengan kegiatan kebudayaan dan pariwisata berupa fashion show busana adat bermotif Pase serta Grand Final Duta Wisata.

Penanaman 800 pohon menjadi bagian dari pesan lingkungan dalam peringatan delapan abad Aceh Utara. Sementara kegiatan busana adat dan Duta Wisata diarahkan untuk memperkuat promosi identitas serta potensi daerah.

Jalan Santai hingga Kenduri Rakyat

Pada 12 September, masyarakat kembali dilibatkan dalam sejumlah kegiatan olahraga dan hiburan.

Agenda yang disiapkan antara lain jalan santai, sepeda santai dan permainan tradisional.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Kenduri Rakyat dan panggung seni.

Konsep tersebut memberikan ruang lebih luas kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam perayaan Harlah ke-800, bukan hanya sebagai penonton.

Penutupan dengan Pasar Murah

Rangkaian Piasan Pase 2026 dijadwalkan berakhir pada 13 September 2026.

Pada hari terakhir, pemerintah daerah menyiapkan pasar murah pangan, pertunjukan kolosal, pengumuman pemenang berbagai perlombaan serta seremoni penutupan.

Pasar murah menjadi salah satu agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat di tengah rangkaian perayaan Harlah.

Sejarah Samudera Pasai sebagai Benang Merah

Sejarah Samudera Pasai menjadi salah satu benang merah dalam rangkaian peringatan Harlah ke-800 Aceh Utara.

Melalui ziarah ke makam tokoh sejarah, pementasan drama Sultan Malik Al-Shaleh serta berbagai agenda budaya, pemerintah daerah menjadikan momentum delapan abad tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kembali sejarah, adat dan kebudayaan kawasan Pase.

Bagi Pemkab Aceh Utara, warisan sejarah tidak cukup hanya disimpan sebagai catatan masa lalu.

Sejarah tersebut perlu diperkenalkan kepada generasi sekarang agar tetap menjadi bagian dari identitas daerah.

Karena itu, Piasan Pase 2026 dirancang dengan memadukan berbagai unsur, mulai dari sejarah, seni tradisional, kuliner, agama, kegiatan sosial, olahraga, lingkungan, UMKM hingga expo potensi daerah.

Piasan Pase 2026 juga membawa misi promosi potensi daerah.

Kehadiran expo, festival kuliner, kegiatan UMKM dan berbagai pertunjukan memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan produk dan potensi lokal Aceh Utara.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal yang terlibat selama pelaksanaan kegiatan.

Namun, dampak ekonomi tersebut masih menjadi harapan dan tujuan penyelenggaraan karena kegiatan belum berlangsung sehingga hasil ekonominya belum dapat diukur.

Dengan sejarah Samudera Pasai sebagai salah satu benang merah, Piasan Pase 2026 menjadi momentum Pemkab Aceh Utara memperingati perjalanan delapan abad daerah tersebut.

Selama rangkaian kegiatan, masyarakat tidak hanya diajak mengenang sejarah, tetapi juga menikmati seni tradisional, mencicipi kuliner khas, mengikuti kegiatan keagamaan dan sosial serta menyaksikan berbagai potensi daerah.

Delapan abad menjadi momentum untuk menengok masa lalu, merawat identitas, sekaligus membawa warisan Pase kepada generasi berikutnya.[]