Menanti Janji Pembangunan, Jalan di Pelosok Aceh Timur Masih Berlumpur
ACEH TIMUR — Kondisi jalan di Dusun SP VI, Desa Arul Pinang, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, masih memprihatinkan. Saat musim hujan, jalan tanah tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan warga beraktivitas.
Kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu dikeluhkan masyarakat karena belum mendapat penanganan tuntas. Padahal, jalan tersebut merupakan akses utama warga untuk menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mendapatkan pelayanan kesehatan.
Pantauan di lapangan, badan jalan dipenuhi lubang dan bekas roda kendaraan yang dalam. Kondisi licin dan berlumpur membuat pengendara harus ekstra hati-hati agar tidak terperosok.
Keprihatinan terhadap kondisi tersebut turut disampaikan Riska Ayunita, Wakil Presiden Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Ia menilai pembangunan infrastruktur di wilayah pelosok masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Menurut Riska, kondisi jalan di kampung halamannya itu nyaris tidak berubah sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Setiap kali pulang kampung, ia masih harus menghadapi kesulitan saat melintasi jalan rusak tersebut.
Kerusakan jalan itu juga berdampak langsung terhadap perekonomian warga, terutama petani yang menggantungkan penghasilan dari kelapa sawit.
Zikrul, salah seorang petani setempat, mengatakan buruknya kondisi jalan membuat pengangkutan hasil panen terhambat dan membutuhkan biaya tambahan.
“Kalau sudah hujan deras, truk pengangkut kelapa sawit sering terjebak di tengah jalan. Proses pengangkutan menjadi sangat lama karena harus menunggu kendaraan lain untuk menarik truk yang amblas,” ungkap Zikrul.
Akibatnya, biaya lansir meningkat sehingga mengurangi keuntungan petani dari hasil panen.
“Biaya lansir membengkak dan keuntungan panen kami habis hanya untuk biaya jalan,” tambahnya.
Selain menghambat perekonomian, kerusakan jalan juga menyulitkan aktivitas pendidikan. Mayoritas guru sekolah dasar yang mengajar di Dusun SP VI berasal dari luar dusun sehingga harus melewati jalan berlumpur setiap hari. Para siswa pun menghadapi kesulitan serupa saat berangkat ke sekolah.
Masyarakat Dusun SP VI berharap Bupati Aceh Timur bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki akses jalan tersebut.
Warga meminta pemerintah menurunkan alat berat untuk melakukan pengerasan jalan, dilanjutkan dengan pengaspalan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
Masyarakat berharap jalan yang rusak selama bertahun-tahun itu segera mendapat perhatian dan perbaikan sehingga aktivitas ekonomi, pendidikan, serta kebutuhan sehari-hari warga tidak terus terkendala, terutama saat musim hujan.[]

