Hingga Awal 2026, Puluhan Ribu Korban Banjir Aceh Utara Masih Bertahan di Pengungsian
Aceh Utara — Hingga awal tahun 2026, puluhan ribu korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Utara masih bertahan di lokasi pengungsian. Tercatat sebanyak 67.876 jiwa dari 19.047 Kepala Keluarga (KK) masih mengungsi di 210 titik pengungsian yang tersebar di 12 kecamatan, hingga Jumat (2/1/26).
Lokasi pengungsian terbanyak berada di Kecamatan Tanah Jambo Aye dengan 54 titik dan Kecamatan Langkahan sebanyak 50 titik. Selanjutnya, Kecamatan Sawang tercatat 33 titik, Baktiya Barat 22 titik, Lhoksukon/Lapang 18 titik, Baktiya dan Dewantara masing-masing 11 titik, serta Muara Batu 5 titik.
Sementara itu, Kecamatan Seunuddon dan Nibong masing-masing memiliki dua titik pengungsian, serta Kecamatan Cot Girek dan Meurah Mulia masing-masing satu titik. Data tersebut menunjukkan Tanah Jambo Aye dan Langkahan merupakan wilayah dengan dampak banjir paling parah.
Sebagian warga lainnya telah kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur dan mulai menata kembali kehidupan setelah banjir bandang yang melanda pada 26 November 2025. Namun, banyak di antaranya masih menghadapi keterbatasan akibat kerusakan rumah dan infrastruktur dasar.
Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil yang akrab disapa Ayahwa, menyebutkan jumlah warga terdampak banjir mencapai 124.549 KK atau 433.064 jiwa, termasuk 74.383 siswa dan 9.071 guru. Dari jumlah tersebut, 48.861 siswa masih berada di lokasi pengungsian.
Hingga saat ini, korban meninggal dunia yang telah ditemukan sebanyak 216 orang, sementara enam orang masih dinyatakan hilang. Sedangkan korban luka-luka tercatat 2.127 orang.
Kelompok rentan turut terdampak signifikan, meliputi 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lansia, serta 513 penyandang disabilitas. Dunia pendidikan juga berduka dengan meninggalnya satu kepala sekolah, satu guru, dua tenaga kependidikan, dan tiga siswa.
Banjir besar yang melanda Aceh Utara mengakibatkan kerusakan lintas sektor dalam skala luas. Berdasarkan rekapitulasi sementara per 1 Januari 2026, tercatat 72.364 rumah terendam, dengan 3.506 rumah hilang dan 42.841 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari rusak berat, sedang, dan ringan.
Di sektor pertanian dan perikanan, banjir menyebabkan 11.929 hektare sawah puso dan 10.674 hektare tambak terendam, yang berpotensi menimbulkan krisis pangan serta hilangnya mata pencaharian masyarakat.
Kerusakan infrastruktur juga meliputi 432 ruas jalan, 69 unit jembatan, 21 daerah irigasi, serta 78 titik tanggul sungai. Sektor pendidikan terdampak serius dengan 6.670 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMP mengalami kerusakan.
Pada sektor kesehatan, tercatat 5 puskesmas rusak berat, 14 rusak sedang, serta puluhan puskesmas pembantu terdampak. Selain itu, 53 unit perkantoran, fasilitas kelautan dan perikanan, serta ribuan unit UMKM dan IKM ikut terdampak banjir.
Sektor keagamaan pun tak luput dari kerusakan, dengan ratusan masjid, meunasah, dan dayah mengalami rusak berat hingga ringan. Aktivitas ekonomi masyarakat terhenti, seiring rusaknya pasar, kios, dan sarana produksi warga.
Bupati Aceh Utara menegaskan, dari segi jumlah korban, luas wilayah terdampak, dan kerusakan infrastruktur, Aceh Utara termasuk daerah paling parah terdampak banjir di kawasan regional. Dari 852 gampong, sebanyak 646 gampong atau sekitar 75,8 persen terdampak.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah memperpanjang masa tanggap darurat bencana sebanyak empat kali, terakhir hingga 5 Januari 2026, sembari mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Secara keseluruhan, bencana banjir ini menunjukkan besarnya dampak terhadap pelayanan dasar, kehidupan sosial-keagamaan, serta perekonomian masyarakat, sehingga membutuhkan penanganan cepat, terukur, dan berkelanjutan.[]

