Semarak Maulid Nabi di Alue Bungkoh, Warga Padati Meunasah Tradisi Turun-Temurun yang Terus Dilestarikan
ACEH UTARA– Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, berlangsung meriah dan penuh kebahgiaan, Minggu (16/11/25).
Sejak pagi, warga dari tiga dusun di gampong alue bungkoh memadati meunasah untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia.
Acara dimulai dengan pembacaan barzanji, zikir, dan lantunan pujian kepada Rasulullah SAW yang dibawakan oleh para santri dayah. Usai mendengarkan lantunan zikir maulid masyarakat menyantap kenduri Maulid yang disajikan, sebuah tradisi khas Aceh yang tidak pernah terlepas dari momentum Maulid.
Perayaan Maulid Nabi di Aceh telah mengakar sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Dulu, kerajaan menggelarnya secara besar-besaran sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah dan ajang memperkuat ikatan sosial masyarakat. Hingga kini, tradisi itu tetap lestari dengan sebutan Khanduri Maulid, yang biasanya berlangsung sepanjang empat periode : Maulid Awal, Maulid dua, Maulid tiga dan Maulid empat.
Maulid bagi orang Aceh bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga pesta adat yang mempertemukan semua kalangan, dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga anak-anak.
Geuchik Gampong Alue Bungkoh, Muslem, S.Pd, mengapresiasi kerja sama masyarakat dalam menyukseskan penyelenggaraan Maulid tahun ini.
“Kami sangat bersyukur acara berjalan lancar. Antusias warga luar biasa, mulai dari persiapan hingga hari pelaksanaan. Maulid adalah tradisi yang harus terus dijaga, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kebersamaan, keimanan, dan keacehan,” ujar Muslem.
Ia menambahkan, kegiatan ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat ukhuwah antarwarga.
Ketua Pemuda Gampong Alue Bungkoh, Maulidin, mengatakan keterlibatan pemuda menjadi kunci sukses acara tahun ini.
“Pemuda ikut terlibat penuh, mulai dari persiapan meunasah, memasak kuah beulangong, hingga mengatur jalannya acara. Kami ingin menunjukkan bahwa pemuda hadir bukan hanya sebagai tenaga, tetapi juga sebagai penggerak tradisi,” kata Maulidin.
Menurutnya, semangat anak muda dalam Maulid menunjukkan bahwa warisan budaya Aceh tetap hidup di generasi sekarang.
Rangkaian acara Maulid ditutup dengan kenduri bersama yang dihadiri ratusan warga. Hidangan tradisional khas Maulid tersaji di atas talam besar, memperkuat suasana kebersamaan di antara masyarakat.
Peringatan Maulid Nabi di Alue Bungkoh tahun ini kembali menjadi bukti bahwa meski zaman terus berubah, masyarakat Aceh tetap menjaga adat dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. [ ]

