67 SMA Terdampak Banjir Bandang di Aceh Utara, 55 Sekolah Belajar di Lantai, 12 Gunakan Tenda
Aceh Utara - Proses belajar mengajar (PBM) tingkat SMA dan sederajat di Kabupaten Aceh Utara tetap dilaksanakan meski masih dalam keterbatasan pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025.
Dari total 87 SMA dan sederajat di Aceh Utara, sebanyak 67 sekolah terdampak banjir dan akan kembali melaksanakan PBM mulai 5 Januari 2026 dengan kondisi yang jauh dari normal. Dari jumlah tersebut, 55 sekolah sudah dapat menggunakan ruang kelas, namun tanpa kursi dan perabot sekolah, sehingga siswa terpaksa belajar di lantai.
Sementara itu, 12 sekolah lainnya belum selesai dibersihkan dari lumpur sisa banjir yang mengendap di ruang kelas, sehingga kegiatan pembelajaran terpaksa dilakukan di tenda darurat.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Johan, M.Pd., menyampaikan bahwa pihaknya telah menginstruksikan agar PBM tetap berjalan sesuai jadwal dengan menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah.
“Kami tetap mengarahkan agar proses belajar mengajar dimulai pada 5 Januari 2026, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi di lapangan serta kebijakan kepala sekolah,” ujarnya, Sabtu (3/1/26).
Ia menjelaskan, sekolah yang melaksanakan PBM di tenda darurat tersebar di sejumlah kecamatan terdampak banjir parah, di antaranya Kecamatan Langkahan, Tanah Jambo Aye, Baktiya, Baktiya Barat, Muara Batu, dan Sawang, serta beberapa kecamatan lainnya di Aceh Utara.
Banjir bandang tersebut juga menyebabkan kerusakan berat pada fasilitas pendidikan. Berbagai sarana sekolah seperti buku pelajaran, meja, kursi, komputer, laptop, perangkat elektronik, hingga meja guru dilaporkan rusak dan tidak dapat digunakan akibat terendam banjir.
“Dalam banyak kasus, hanya bangunan sekolah yang tersisa, sementara seluruh isi di dalamnya mengalami kerusakan berat. Kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp2 miliar per sekolah, bahkan bisa lebih bagi sekolah yang juga mengalami kerusakan pagar dan fasilitas penunjang lainnya,” jelas Muhammad Johan.
Dampak banjir tidak hanya merusak infrastruktur pendidikan, tetapi juga berdampak besar secara sosial. Ratusan rumah guru serta ribuan rumah siswa SMA dan sederajat dilaporkan rusak berat atau hilang, sehingga sebagian besar masih mengungsi di pos pengungsian, sementara lainnya menumpang di rumah keluarga atau kerabat.
Dari sekitar 14 ribu siswa SMA dan sederajat di Aceh Utara, lebih dari 10 ribu siswa terdampak langsung banjir. Selain itu, sebanyak 109 guru kehilangan tempat tinggal, sementara 775 siswa dilaporkan tidak lagi memiliki rumah akibat bencana tersebut. Total jumlah guru SMA dan sederajat di Aceh Utara saat ini mencapai sekitar 3.000 orang.[]

