Kolaborasi Dua Grup Dikè Meriahkan Maulid Nabi di Alue Dama, Antusiasme Masyarakat Membludak

Kolaborasi Dua Grup Dikè Meriahkan Maulid Nabi di Alue Dama, Antusiasme Masyarakat Membludak
Grup Dikè Dayah Nurul Iman dan Najmushshaghir tampil memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Alue Dama, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Kamis (22/10/26). - Foto : Dok. Penulis

ACEH UTARA — Kolaborasi Grup Dikè Dayah Nurul Iman dari Gampong Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, dan Grup Dikè Najmushshaghir dari Gampong Tumpok Masjid, Kecamatan Paya Bakong, memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Alue Dama, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (22/10/26).

Peringatan maulid tersebut berlangsung meriah dengan antusiasme masyarakat yang luar biasa. Warga setempat tampak bersemangat mengikuti kegiatan keagamaan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Aceh dalam memperingati kelahiran Rasulullah SAW.

Kolaborasi kedua grup Dikè dari dayah tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara santri, masyarakat, dan tokoh agama, sekaligus memperkuat syiar Islam di tengah kehidupan bermasyarakat.

Imum Gampong Alue Dama, Tgk Jamaluddin, S.H., menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk mengenang perjalanan hidup Rasulullah serta meneladani akhlak dan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat Aceh.

Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilestarikan sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga kebersamaan, serta menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, khususnya bagi generasi muda.

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan hari kelahiran Rasulullah yang diperkirakan jatuh pada 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Tradisi peringatan maulid berkembang di tengah masyarakat Islam setelah Rasulullah wafat, dengan beragam bentuk kegiatan sesuai tradisi masing-masing daerah.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi mulai berkembang dalam bentuk perayaan yang lebih luas pada masa pemerintahan Islam beberapa abad setelah Rasulullah wafat.

Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan dengan perkembangan tradisi tersebut adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar mengenang hari kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak selawat, mempelajari sirah nabawiyah, mempererat persaudaraan, serta meneladani sifat-sifat mulia beliau, seperti kejujuran, amanah, kesabaran, dan kasih sayang.

Di Aceh, peringatan maulid telah menjadi tradisi keagamaan dan sosial yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai Islam diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.[]