Mahasiswa KPI UINSUNA Adu Kreativitas Lewat Lomba Video dan Desain Grafis

Mahasiswa KPI UINSUNA Adu Kreativitas Lewat Lomba Video dan Desain Grafis
Mahasiswa dan panitia berfoto bersama usai mengikuti Pelatihan Desain Grafis dan Lomba Video Kreatif yang digelar HMJ KPI UINSUNA Lhokseumawe. Kegiatan mengusung tema “Bangkitkan Inspirasi dengan Kreasi”. - Foto : Dok. Ist

LHOKSEUMAWE – Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe mengasah kreativitas melalui Lomba Video Kreatif dan Desain Grafis yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) KPI, Rabu (30/9/26).

Kegiatan yang mengusung tema “Bangkitkan Inspirasi dengan Kreasi” tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mengolah ide menjadi karya visual, baik dalam bentuk video maupun desain grafis.

Sebelum mengikuti perlombaan, peserta terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari praktisi di bidang videografi dan desain grafis.

Materi pembekalan diberikan untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus pemahaman mahasiswa dalam mengembangkan konsep dan menghasilkan karya visual yang komunikatif.

Dua praktisi dihadirkan sebagai pemateri, yakni Juanda SIKom yang membawakan materi videografi dan Willy Surya Prayoga, SSn CLMT MLTT yang memberikan materi desain grafis.

Dalam sesi videografi, Juanda menjelaskan bahwa produksi video yang baik diawali dengan kemampuan memahami teknik pengambilan gambar.

Menurutnya, setiap gambar harus memiliki tujuan dan mampu memperkuat objek utama yang ingin disampaikan kepada audiens.

“Berbicara videografi tentunya wajib mempelajari cara pengambilan gambar yang benar sesuai dengan tujuan yang di-highlight. Videografi berfokus pada pengambilan gambar sesuai realita suatu peristiwa,” kata Juanda.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara videografi dan sinematografi. Menurutnya, sinematografi merupakan pengembangan produksi visual yang lebih kompleks karena tidak hanya mengandalkan pengambilan gambar, tetapi juga pencahayaan, penggambaran suasana dan penyusunan visual berdasarkan alur cerita.

“Videografi kemudian dikembangkan sebagai produksi yang lebih kompleks dengan istilah sinematografi, di mana sinematografi berisi kumpulan videografi yang diciptakan dengan lighting dan penggambaran suasana sesuai alur cerita yang dibuat,” ujarnya.

Sementara itu, pemateri desain grafis, Willy Surya Prayoga, menekankan pentingnya kepekaan visual dalam menghasilkan karya.

Menurutnya, kemampuan tersebut semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin mudah digunakan dalam produksi konten.

“AI pakai otak, desain grafis pakai perasaan. Bukan hanya soal gambar, tapi juga tulisan. Penggunaan warna, tipografi, imagery dan layout,” kata Willy.

Ia mengatakan, kemampuan mengoperasikan perangkat atau aplikasi desain harus dibarengi pemahaman terhadap unsur-unsur visual. Dengan demikian, mahasiswa tidak sekadar menghasilkan gambar, tetapi mampu menciptakan karya yang memiliki pesan dan nilai komunikasi.

Ketua Program Studi KPI UINSUNA, Zanzibar MSos, mengatakan perkembangan aplikasi desain berbasis template dan generator AI memang memberikan kemudahan dalam menghasilkan karya visual.

Namun, kemudahan tersebut tetap harus diiringi dengan penguasaan prinsip dan teknik desain.

“Desain grafis bukan hanya hal ordinary yang dilakukan dengan mudah dengan aplikasi tersedia template dan generator berbasis AI, tetapi juga teknik dan seni. Bahkan aplikasi seperti Canva pun masih perlu dibedah lebih dalam,” ujar Zanzibar.

Ia menilai keterampilan tersebut penting bagi mahasiswa KPI karena produksi konten visual kini menjadi bagian dari aktivitas komunikasi dan penyiaran di era digital.

Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UINSUNA, Dr. Mahdi, M.H., mengatakan proses pembelajaran mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan perkuliahan reguler.

“Tidak cukup dengan SKS di dalam kampus untuk mendapatkan pengalaman,” kata Mahdi.

Menurutnya, kegiatan pelatihan dan kompetisi menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat menguji pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah sekaligus mengembangkan kreativitas melalui karya.

Mahdi juga mengapresiasi HMJ KPI, panitia, organisasi mahasiswa, pemateri dan seluruh peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Setelah pembekalan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kompetisi video kreatif dan desain grafis. Para mahasiswa ditantang mengolah ide, menentukan konsep, memilih unsur visual hingga menghasilkan karya sesuai tema yang telah ditetapkan.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa KPI untuk meningkatkan keterampilan kreatif dan kemampuan produksi konten yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di era digital.[]