Korban Banjir di Aceh Utara Bertambah Jadi 78 Orang Meninggal, 51 Hilang
ACEH UTARA - Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara sejak 22 November hingga 1 Desember 2025 terus menunjukkan dampak yang semakin memprihatinkan. Selain merusak infrastruktur dan merendam puluhan ribu rumah warga, bencana ini juga menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Data sementara yang dihimpun dari posko utama banjir pada Senin (1/12/25) mencatat, 78 warga meninggal dunia, sementara 51 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka ini diperkirakan masih dapat bertambah mengingat sejumlah kawasan masih terisolir dan sulit dijangkau oleh tim pencarian.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Aceh Utara, Basarnas, TNI-Polri, serta relawan terus melakukan pencarian di titik-titik yang diperkirakan terdapat korban. Namun, derasnya arus banjir, jembatan yang putus, serta akses jalan yang rusak berat menjadi kendala utama dalam proses evakuasi.
Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, menyampaikan bahwa pemerintah bersama seluruh elemen terkait akan terus mempercepat upaya pencarian meski situasi di lapangan penuh tantangan.
“Seluruh perangkat daerah dan tim penanganan bencana dikerahkan maksimal. Kita terus berupaya menemukan korban yang masih hilang secepat mungkin,” ujarnya.
Selain korban jiwa, dampak kerusakan pemukiman juga sangat parah. Tercatat 32.518 rumah rusak, terdiri dari 3.970 unit rusak berat, 12.685 rusak sedang, dan 15.890 rusak ringan.
Sementara itu, 32.547 rumah terendam banjir, memaksa 107.305 warga mengungsi ke 221 titik pengungsian.
Meski sebagian warga mulai kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur dan material banjir, banyak lokasi yang masih belum aman ditempati karena genangan belum surut dan akses belum pulih.
Kerusakan infrastruktur pun cukup masif. Sebanyak 27 jembatan rusak, terdiri dari 24 jembatan rusak berat dan 3 rusak ringan.
Selain itu, dilaporkan adanya 57 titik tanggul sungai jebol dan kerusakan pada delapan daerah irigasi, termasuk lima yang rusak berat.
Bupati Ismail—yang akrab disapa Ayahwa—menegaskan bahwa perbaikan jembatan, tanggul, dan jalur vital akan menjadi prioritas begitu kondisi darurat teratasi.
“Ini pekerjaan besar, tetapi akan kita tangani secara bertahap dan terukur,” ujarnya.
Upaya pendataan dampak banjir hingga kini masih terkendala jaringan telekomunikasi yang belum pulih di sebagian wilayah. Pemadaman listrik juga masih terjadi di sejumlah desa terdampak, membuat aktivitas warga maupun petugas semakin terbatas.
Pemerintah daerah menyebutkan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah bahan pangan dan logistik dasar, mengingat distribusinya belum merata akibat hambatan akses. []

