‎Korban Banjir Aceh Utara Jadi 81 Orang, Ayah Wa Distribusikan Logistik ke Pengungsi

‎Korban Banjir Aceh Utara Jadi 81 Orang, Ayah Wa Distribusikan Logistik ke Pengungsi
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, MM (Ayah Wa), turun langsung ke lapangan memastikan distribusi logistik bagi puluhan ribu pengungsi yang tersebar di ratusan titik pengungsian. - Foto :Dok. Pemkab Aceh Utara

‎ACEH UTARA - Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara terus bertambah hingga mencapai 81 orang, sementara 90 warga lainnya masih dinyatakan hilang hingga Senin (1/12/25) malam.

‎Situasi darurat ini membuat Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa), turun langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi logistik bagi puluhan ribu pengungsi yang tersebar di ratusan titik pengungsian.

‎Banjir yang telah berlangsung selama lima hari terakhir dipicu oleh cuaca ekstrem, tingginya curah hujan, serta pendangkalan sungai. Kondisi semakin memburuk akibat jebolnya sejumlah tanggul dan tebing sungai di Kecamatan Samudera, Nibong, Lhoksukon, dan Langkahan. Luapan Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang juga memperparah bencana ini.

‎Upaya penanganan semakin terhambat karena pemadaman total jaringan listrik dan komunikasi di sebagian besar wilayah Aceh Utara. Internet dan layanan telepon tidak berfungsi, mengganggu pelaporan darurat, koordinasi evakuasi, serta distribusi bantuan.

‎Sejumlah permukiman penduduk juga masih terendam banjir dan lumpur sehingga menyulitkan akses petugas menuju lokasi pengungsian.

‎Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Ayah Wa lebih dahulu menetapkan status Tanggap Darurat Banjir pada Selasa (25/11/25) di Lhoksukon sebagai langkah awal percepatan penanganan bencana.

‎BPBD Aceh Utara melaporkan banjir ini telah berdampak pada 50.772 kepala keluarga atau 150.154 jiwa. Dari jumlah tersebut, 31.179 keluarga (103.740 jiwa) terpaksa mengungsi ke 852 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kecamatan.

‎Kelompok rentan seperti 116 ibu hamil, 715 balita, 713 lansia, dan 15 penyandang disabilitas turut mengungsi sehingga memerlukan penanganan khusus di posko darurat.

‎Kerusakan infrastruktur akibat banjir juga sangat parah. Sebanyak 3.970 rumah rusak berat, 12.685 rusak sedang, dan 15.890 rusak ringan.

‎Banjir turut menyebabkan 57 titik tanggul jebol, 27 jembatan rusak, serta 48 ruas jalan terdampak dengan tingkat kerusakan berbeda-beda.

‎‎Di sektor pendidikan, 101 sekolah mengalami kerusakan, termasuk kerusakan pada alat peraga, mobiler, perangkat TIK, kit laboratorium, serta lebih dari 25 ribu buku yang rusak.

‎Selain itu, 38.586 rumah masih terendam banjir dan lumpur. Kerusakan juga terjadi pada 12.783 hektare sawah dan 10.653 hektare tambak milik warga.

‎Meski logistik masa panik telah disalurkan melalui kantor-kantor kecamatan, pemerintah daerah menegaskan kebutuhan mendesak masih sangat besar. Para pengungsi membutuhkan bahan makanan, kebutuhan khusus perempuan dan anak, layanan kesehatan, air bersih, peralatan evakuasi seperti perahu karet, serta pemulihan jaringan telekomunikasi dan listrik.

‎Alat berat juga diperlukan untuk membuka akses menuju wilayah yang hingga kini masih terisolir.

‎‎Tercatat sembilan kecamatan masih sulit diakses, yakni Langkahan, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timu, Nisam Antara, Samudera, Lapang, dan Sawang.

‎Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli, menyatakan bahwa Pemkab Aceh Utara bersama BPBD, TNI/Polri, dan unsur relawan terus bekerja maksimal untuk memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi dan akses ke daerah terisolir dapat dibuka secepat mungkin. [ ]