Kisah Rapa-i Raja Siwah Tanah Pasir, Penjaga Tradisi Rapa-i Geurimpheng di Aceh Utara

Kisah Rapa-i Raja Siwah Tanah Pasir, Penjaga Tradisi Rapa-i Geurimpheng di Aceh Utara
Personel Grup Rapa-i Raja Siwah. - Foto : Dok. Ist

ACEH UTARA – Kelompok Rapa-i Raja Siwah dari Desa Alue, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, menjadi salah satu penjaga tradisi Rapa-i Geurimpheng yang masih bertahan hingga kini.

 

Berawal dari kebersamaan masyarakat membeli seperangkat rapa-i menggunakan dana hasil panen padi, kelompok tersebut tumbuh menjadi tim seni yang disegani dan kerap tampil dalam berbagai kegiatan, mulai dari pesta rakyat hingga agenda resmi pemerintahan.

 

Dalam perjalanannya, Raja Siwah mengalami perubahan bentuk rapa-i dari Baloh Panjang menjadi Baloh Pendek pada akhir 1990-an mengikuti perkembangan yang diperkenalkan tokoh seni dari Nisam.

 

Perubahan tersebut membuat rapa-i lebih praktis dibawa, meski suara Baloh Panjang dinilai memiliki harmoni yang lebih padu.

 

Nama kelompok juga sempat berubah menjadi Balum Bilie sebelum akhirnya kembali menggunakan nama Raja Siwah sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

 

Sejumlah tokoh seperti Keuchik Sop, Nek Him, Nek Mae, dan Apa Baka pernah menjadi syekh yang memimpin kelompok tersebut serta mewariskan teknik permainan rapa-i kepada generasi penerus.

 

Saat ini, mayoritas pemain Raja Siwah merupakan kalangan dewasa hingga lanjut usia. Di antaranya Burhanuddin yang menjadi Apied sejak 1999, serta Tarmizi dan Mukhaidir yang masih aktif memainkan berbagai variasi pukulan rapa-i.

 

Meski tetap bertahan, kelompok seni tersebut menghadapi tantangan besar berupa minimnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional.

 

Mukhaidir, salah seorang penerus kelompok, bahkan rela membeli rapa-i menggunakan biaya pribadi demi menjaga kelangsungan tradisi tersebut.

Namun, ia mengakui minat anak-anak muda terhadap rapa-i kini mulai berkurang sehingga persoalan regenerasi pemain menjadi tantangan nyata.

 

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa dukungan generasi baru, kesenian Rapa-i Geurimpheng berpotensi kehilangan penerusnya.

 

Padahal, seni tradisional tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tanah Pasir selama puluhan tahun.

 

Meski demikian, semangat para pemain senior tidak pernah surut. Mereka berharap semakin banyak generasi muda yang mau mengenal, mempelajari, dan mencintai rapa-i sebagai bagian dari warisan budaya Aceh.

 

Bagi masyarakat setempat, Raja Siwah bukan sekadar kelompok seni, melainkan simbol kebersamaan warga Desa Alue dan sekitarnya dalam menjaga tradisi.

 

Di tengah tantangan regenerasi, keberadaan mereka menjadi pengingat bahwa seni tradisional hanya dapat bertahan apabila terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[]