‎Mahasiswa Asahan di Lhokseumawe Keluhkan Minimnya Perhatian Pemda Asahan

‎Mahasiswa Asahan di Lhokseumawe Keluhkan Minimnya Perhatian Pemda Asahan
Arif Manurung

Lhokseumawe – Ratusan mahasiswa asal Kabupaten Asahan yang menempuh pendidikan di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, menyuarakan kekecewaan atas minimnya perhatian dari pemerintah daerah asal mereka.

‎Melalui organisasi Ikatan Mahasiswa Asahan (IMASA) Lhokseumawe–Aceh Utara, para mahasiswa ini menilai Pemkab Asahan belum menunjukkan kepedulian nyata terhadap keberadaan dan aktivitas mereka di perantauan.

‎Organisasi IMASA Lhokseumawe yang berdiri sejak 2016 itu kini hampir memasuki satu dekade kiprah, namun belum juga tersentuh dukungan dari pemerintah daerah. Padahal, selama ini IMASA aktif menjalankan berbagai program sosial dan pendidikan, salah satunya “IMASA Goes to School”—sebuah agenda tahunan yang menyasar sekitar 40 SMA di Kabupaten Asahan.

‎Program tersebut bertujuan memberi motivasi dan bimbingan kepada siswa agar melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hasilnya cukup nyata: setiap tahun terjadi peningkatan jumlah pelajar Asahan yang melanjutkan studi ke berbagai kampus, dan pada 2025 ini tercatat lebih dari 200 mahasiswa baru asal Asahan yang berkuliah di Lhokseumawe.

‎Namun di balik capaian itu, para mahasiswa menilai Pemkab Asahan masih menutup mata terhadap peran dan kebutuhan mereka.

‎Aktivis IMASA, Arif Manurung, menyampaikan bahwa mahasiswa di perantauan juga merupakan bagian dari masyarakat Kabupaten Asahan yang berhak mendapatkan perhatian dan dukungan pemerintah.

‎‎“Kami yang ada di sini adalah masyarakat Kabupaten Asahan. Kami hanya berharap pemerintah daerah tidak melupakan kami, karena kesejahteraan mahasiswa juga bagian dari tanggung jawab negara,” ujarnya.

‎Arif menilai pejabat di Asahan seolah kehilangan kepedulian terhadap warganya sendiri.

‎“Kami tidak meminta lebih, hanya menuntut hak yang dijamin dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea IV: bahwa pemerintah wajib melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.

‎‎Ia berharap Pemkab Asahan dapat lebih serius memperhatikan keberadaan mahasiswa di Lhokseumawe, bukan hanya sebatas retorika, melainkan dengan langkah nyata seperti pembinaan, beasiswa, dan dukungan terhadap kegiatan mahasiswa di daerah rantau.

‎‎“Mahasiswa adalah generasi penerus pembangunan daerah. Jika pemerintah abai terhadap pendidikan mereka, maka daerah juga akan kehilangan masa depannya,” tutup Arif. [ ]