Desa Bungkah Berubah Jadi Muara Sungai, Ratusan KK Kehilangan Tempat Tinggal
Aceh Utara — Potret Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, pascabanjir bandang kian memprihatinkan. Kawasan yang sebelumnya merupakan lahan pertanian kini berubah menyerupai muara sungai akibat terjangan banjir besar pada 26/11/25 lalu.
Keuchik Gampong Bungkah, Muhammad Hasballah, sabtu (20/12/25), memperlihatkan kondisi rel kereta api yang miring dan nyaris menyentuh tanah. Tak jauh dari lokasi tersebut, terlihat puing-puing rumah warga yang hancur disapu arus deras. Sebagian bangunan rata dengan tanah, menyisakan dinding yang berdiri rapuh.
Sedikitnya 30 hektare lahan milik masyarakat dilaporkan hilang akibat abrasi dan terjangan banjir. Ketinggian air saat kejadian mencapai satu hingga dua meter, merendam empat titik kawasan desa yang kini berubah total.
“Dulu ini lahan pertanian, sekarang sudah menjadi muara sungai, alirannya memanjang mengikuti sungai,” ujar Hasballah.
Banjir tersebut berdampak besar terhadap kehidupan warga. Tercatat sebanyak 630 kepala keluarga atau 2.335 jiwa menjadi korban. Dari jumlah tersebut, 96 unit rumah hilang tersapu banjir. Selain itu, 211 unit rumah mengalami rusak sedang, 200 unit rusak berat, dan 123 unit lainnya rusak ringan.
Warga yang kehilangan tempat tinggal kini mengungsi di meunasah setempat. Beruntung, halaman meunasah cukup luas dan didukung fasilitas lain seperti balai pertemuan sehingga mampu menampung para pengungsi.
“Saya kira enam bulan ke depan masih akan ada pengungsi. Mau pulang ke mana, rumah sudah tidak ada,” katanya.
Selain kebutuhan bahan pangan, para pengungsi juga membutuhkan tenda yang lebih layak agar dapat ditempati per kepala keluarga. “Kami sangat membutuhkan tim kesehatan, air bersih, dan kelambu,” tambahnya.
Sebelumnya diberitakan, hingga saat ini sebanyak 71.637 pengungsi korban banjir masih bertahan di 226 titik pengungsian di sejumlah wilayah.
Tak hanya merusak permukiman, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada sektor pertanian. Sebanyak 12 daerah irigasi dilaporkan rusak, sementara delapan daerah irigasi tersier turut terdampak. Selain itu, sekitar 14.509 hektare sawah tertutup lumpur sisa banjir setinggi satu hingga dua meter dan tidak dapat difungsikan.[]

