68 Persen Siswa di Aceh Utara Masih Mengungsi hingga 28 Hari Pascabanjir

68 Persen Siswa di Aceh Utara Masih Mengungsi hingga 28 Hari Pascabanjir
Plt Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, MPd memaparkan kondisi sektor pendidikan yang terdampak banjir yang terjadi pada akhir November 2025, di mana 68 persen siswa masih mengungsi hingga hari ke-28 pascabencana. Pemaparan ini dilakukan Plt Sekda dalam pertemuan dengan jurnalis pada Rabu (23/12/25). - Foto : Dok. Penulis

Aceh Utara — Kondisi sektor pendidikan di Kabupaten Aceh Utara masih memprihatinkan hingga 28 hari pascabanjir yang melanda 25 dari 27 kecamatan. Puluhan ribu siswa dilaporkan belum dapat kembali mengikuti proses belajar mengajar secara normal karena masih mengungsi dan fasilitas pendidikan belum sepenuhnya pulih.

Hingga Kamis (25/12/25), tercatat sebanyak 42.871 siswa atau sekitar 68 persen dari total 62.856 siswa terdampak banjir masih berada di lokasi pengungsian. Kondisi ini menyebabkan kegiatan belajar mengajar terganggu dan hanya dapat dilakukan secara terbatas melalui pembelajaran darurat.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara, Jamaluddin, M.Pd., mengatakan dampak banjir terhadap dunia pendidikan di Aceh Utara tergolong sangat serius dan membutuhkan penanganan luar biasa dari berbagai pihak.

“Ini sudah hampir satu bulan pascabanjir, namun proses pemulihan sektor pendidikan belum berjalan maksimal,” ujar Jamaluddin.

Ia menjelaskan, banjir berdampak pada 589 satuan pendidikan di berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga pendidikan kesetaraan. Seluruh jenjang pendidikan tersebut terdampak baik dari sisi fasilitas sekolah maupun kondisi peserta didik.

Rinciannya, sebanyak 186 satuan PAUD, 285 SD, 114 SMP, dan 4 satuan pendidikan kesetaraan dilaporkan terdampak banjir. Untuk jumlah siswa terdampak, jenjang SD menjadi yang paling besar dengan 40.568 siswa, disusul SMP sebanyak 15.509 siswa, PAUD 6.244 siswa, dan pendidikan kesetaraan 535 siswa.

Selain siswa, sebanyak 7.623 guru juga turut terdampak banjir, baik karena tempat tinggal maupun fasilitas sekolah yang rusak. Kondisi tersebut turut memengaruhi efektivitas pembelajaran di wilayah terdampak.

Untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, pemerintah daerah bersama pihak terkait membutuhkan sedikitnya 123 unit tenda belajar darurat. Namun, kebutuhan sarana pendukung pendidikan masih sangat besar.

Tercatat sebanyak 61.136 paket perlengkapan sekolah (school kits) masih dibutuhkan untuk menunjang aktivitas belajar siswa pascabencana. Kebutuhan tersebut meliputi 6.403 paket untuk PAUD, 39.813 paket untuk SD, 14.664 paket untuk SMP, dan 256 paket untuk pendidikan kesetaraan.

Jamaluddin menegaskan, kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor pendidikan membutuhkan perhatian dan dukungan serius dari berbagai pihak. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Aceh Utara terus mengimbau sekolah-sekolah terdampak untuk segera melaporkan kondisi terkini guna mempercepat penyaluran bantuan.

Ia juga mengajak masyarakat serta lembaga terkait untuk berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan darurat bagi siswa terdampak banjir.

Banjir yang melanda Aceh Utara tidak hanya berdampak pada sektor infrastruktur dan permukiman, tetapi juga mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak sebagai generasi masa depan daerah.

Untuk diketahui, proses belajar semester ganjil secara administrasi telah berakhir pada 20 Desember 2025 bersamaan dengan pembagian rapor. Namun, tidak seluruh sekolah dapat melaksanakan pembagian rapor karena kondisi sekolah yang masih berlumpur dan belum layak digunakan.

Oleh karena itu, untuk pelaksanaan proses belajar mengajar pada semester berikutnya, sekolah-sekolah terdampak masih membutuhkan tenda belajar darurat. Di sejumlah lokasi, siswa terpaksa belajar di lantai karena meja dan kursi sekolah rusak akibat terendam banjir.[]