‎Warga Cot Girek dan Pirak Timu Bertahan di Tenda, Blokir Akses PTPN IV Sudah Sembilan Malam

‎Warga Cot Girek dan Pirak Timu Bertahan di Tenda, Blokir Akses PTPN IV Sudah Sembilan Malam
Warga Cot Girek dan Pirak Timu bermalam di tenda darurat di pinggir jalan sebagai bentuk protes terhadap PTPN IV Regional 6. Sudah sembilan malam mereka bertahan menjaga posko blokade agar truk pengangkut TBS tidak melintas, Minggu malam (5/10/25). - Foto : Dok. Alhuri

‎Aceh Utara – Aksi blokade warga terhadap aktivitas PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional 6 di Cot Girek, Aceh Utara, terus berlanjut. Hingga Minggu (5/10/2025), warga dari Kecamatan Cot Girek dan Pirak Timu tercatat sudah sembilan malam bermalam di tenda darurat di pinggir jalan.

‎Meski diguyur hujan deras dan udara malam yang dingin, warga tetap bertahan menjaga posko 24 jam penuh. Mereka mendirikan dua tenda utama di Simpang Pucoek Reunteh dan Simpang Pondok Kates sebagai pusat penjagaan agar truk pengangkut Tandan Buah Segar (TBS) milik perusahaan tidak bisa keluar dari areal kebun.

‎“Siang dan malam kami bergantian jaga. Perusahaan masih bisa memanen, tapi hasilnya tidak boleh dibawa keluar sebelum masalah lahan diselesaikan,” ujar Muhammad Al Hudri, salah satu warga Cot Girek.

‎‎Aksi blokade ini telah berlangsung sejak 27 September 2025. Akibatnya, truk pengangkut sawit milik perusahaan berhenti total. TBS hasil panen menumpuk di kebun dan sebagian mulai menurun kualitasnya karena tak segera diangkut ke pabrik.

‎Warga mengaku aksi ini adalah bentuk desakan agar pemerintah dan pihak perusahaan segera menyelesaikan konflik agraria yang sudah berlangsung lama. Mereka menuding luas Hak Guna Usaha (HGU) PTPN IV yang semula 7.500 hektare kini membengkak hingga sekitar 15.000 hektare, sehingga sebagian lahan garapan masyarakat ikut masuk dalam konsesi perusahaan.

‎‎“Aksi ini bukan sekadar protes soal sawit, tapi tentang nasib kami yang hidup dari hasil kebun. Kami akan terus bertahan sampai tuntutan warga dipenuhi,” tegas Al Hudri.

‎‎Hingga Minggu malam, belum ada kepastian kapan pihak manajemen PTPN IV Regional 6 akan menemui warga untuk membahas penyelesaian konflik ini. Warga menyatakan siap bertahan di tenda selama dibutuhkan. [ ]