Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh Gelar Dukungan Psikososial bagi Anak Korban Banjir di Tiga Kabupaten

Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh Gelar Dukungan Psikososial bagi Anak Korban Banjir di Tiga Kabupaten
Anak-anak di Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara yang terdampak banjir mengikuti kegiatan dukungan psikososial bertajuk “Bergerak di Lingkar Kendali”, Selasa (30/12/25). - Foto : Dok. Ist

Aceh Utara - Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh bekerja sama dengan Komunitas Lhee Club dan CV Daratan Samudera menggelar kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Kegiatan bertajuk “Bergerak di Lingkar Kendali” ini dilaksanakan selama 10 hari, mulai 24 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.

Pembina Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh menyampaikan bahwa dukungan psikososial merupakan kebutuhan mendesak pascabencana, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan. Selain kerusakan fisik, bencana hidrometeorologi juga meninggalkan dampak psikologis yang serius.

“Banyak anak mengalami kecemasan, ketakutan, hingga perubahan perilaku akibat kehilangan rumah, lingkungan bermain, dan rasa aman,” ujar Maria Ulfa selaku Koordinator Lapangan, Rabu (31/12/25).

Kegiatan ini difokuskan pada pemulihan mental melalui pendekatan yang ramah anak, partisipatif, dan berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi art therapy dan terapi menulis, yang dinilai efektif membantu anak menyalurkan emosi serta mengurangi stres pascabencana.

Di Kabupaten Pidie Jaya, kegiatan dilaksanakan di Masjid Tuha dengan melibatkan 112 anak, dan ditangani langsung oleh Komunitas Lhee Club. Sementara di Kabupaten Bireuen, kegiatan dipusatkan di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, salah satu wilayah terdampak terparah dengan 114 kepala keluarga mengungsi dan puluhan rumah hilang. Di lokasi ini, dukungan psikososial diikuti oleh 117 anak, lima ibu menyusui, dan 10 lansia.

Adapun di Kabupaten Aceh Utara, kegiatan berlangsung di Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, dengan melibatkan 112 anak. Wilayah tersebut termasuk daerah yang cukup parah terdampak banjir dan hingga kegiatan berlangsung belum tersentuh layanan pemulihan psikologis dari lembaga lain.

Melalui tema “Bergerak di Lingkar Kendali”, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa meski bencana berada di luar kendali manusia, upaya pemulihan mental masyarakat, khususnya anak-anak, tetap dapat dilakukan melalui gerakan kemanusiaan yang konsisten dan penuh empati.[]