Rumah dan Jalan di Sawang Masih Tertimbun Lumpur, Warga Butuh Relawan dan Air Bersih
ACEH UTARA — Ratusan rumah penduduk serta jalan lintas utama di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, masih tertutup lumpur sisa banjir bandang yang menerjang kawasan itu beberapa hari lalu. Ketebalan lumpur bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga lebih dari dua meter.
Pantauan Sabtu (6/12/25), banyak rumah warga terlihat rusak parah dan tidak lagi layak dihuni.
Zaitun (49), warga Gampong Blang Reuling, mengatakan kondisi pascabanjir hingga hari ke-10 masih sangat memprihatinkan. Menurutnya, seluruh warga terdampak mengalami kerusakan serupa sejak banjir besar pada 26 November 2025.
“Setelah sepuluh hari pascabanjir, kami sangat membutuhkan air bersih dan tenaga relawan. Fisik masyarakat sudah lemah, tidak sanggup lagi membersihkan lumpur yang masih mengendap di rumah,” ujarnya.
Ia menambahkan, sampah sisa banjir menumpuk di banyak lokasi. Tingginya endapan lumpur di rumah warga disebabkan ketinggian air saat banjir mencapai empat meter lebih.
“Waktu banjir terjadi malam Kamis, magrib air sudah naik. Awalnya kami kira banjir biasa, jadi barang-barang cuma dinaikkan sedikit. Saat tidur air terus naik, mau lari tidak bisa, turun pun tidak bisa. Akhirnya kami loncat dari pagar. Airnya sangat deras seperti tsunami, kami sangat trauma,” kenangnya.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRK Aceh Utara, Amiruddin, menyebut Kecamatan Sawang merupakan satu dari 27 kecamatan yang terisolasi akibat banjir besar tersebut. Ia memastikan kawasan itu sangat membutuhkan kehadiran relawan untuk membantu pemulihan.
“Kita sangat mengharapkan dimanapun ada relawan, baik TNI, Polri, atau lembaga manapun, agar bisa membantu masyarakat membuka kembali akses kehidupan di sini,” ujarnya.
Menurut Amir, salah satu kendala terbesar ialah tumpukan lumpur yang belum bisa dibersihkan tanpa alat berat dan dukungan tenaga lapangan.
“Sebagian besar masyarakat masih bertahan di tenda pengungsian. Di beberapa titik, warga belum bisa pulang karena rumah masih dipenuhi lumpur dua meter lebih. Sekitar 95 persen rumah rusak dan tidak dapat digunakan lagi,” katanya.
Ia juga mengajak para pemuda Aceh untuk terlibat dalam upaya pemulihan pascabanjir. “Kami di DPRK sudah berupaya membuka akses semaksimal mungkin. Mari bersama-sama bergotong royong menghidupkan kembali aktivitas masyarakat yang lumpuh akibat banjir bandang ini,” pungkasnya.[]

