Strategi Lhokseumawe Capai Target Stunting Nol Persen

Strategi Lhokseumawe Capai Target  Stunting Nol Persen

Kendati nasional menargetkan angka stunting pada kisaran 14 persen pada 2024, Lhokseumawe nekat target zero Stunting atau nol persen. Pj. Walikota Lhokseumawe Dr. Drs. Imran., M.Si., MA., Cd., sangat yakin bisa mencapai target ini. 

“Syaratnya semua pihak mau bekerjasama dan berkolaborasi, mencapai target ini” kata Imran saat Rapat Koordinasi (Rakor) Rembuk Stunting di aula Kantor Wali Kota, Kamis  (27/4/23)

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sejak awal masa emas kehidupan pertama, dimulai dari dalam kandungan hingga  usia dua tahun bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada anak balita. 

Efeknya dalam jangka pendek akan terlihat pada anak saat menginjak usia dua tahun tingginya kurang dari  rata-rata anak seusianya, perkembangan otak juga akan terganggu sehingga dapat menurunkan kecerdasan. Dalam  jangka panjang anak menjadi rentan terjangkit  penyakit seperti penyakit diabetes, obesitas, penyakit jantung, pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas di usia tua.

“Jika tidak ditangani dengan serius, ini menjadi ancaman untuk mewujudkan generasi emas 2045 karena kualitas SDM nya menurun” tambah Imran.

Penyebab utama Sunting diantaranya, asupan gizi dan nutrisi yang kurang mencukupi kebutuhan anak, pola asuh yang salah akibat kurangnya pengetahuan dan edukasi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, buruknya sanitasi lingkungan tempat tinggal seperti kurangnya sarana air bersih dan tidak tersedianya sarana MCK yang memadai serta keterbatasan akses fasilitas kesehatan yang dibutuhkan bagi ibu hami, ibu menyusui dan balita.

Imran mengatakan karena sudah diketahui penyebabnya maka tentu saja bisa dilakukan pencegahan yaitu :

  • Memperhatikan asupan gizi dan nutrisi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, hal ini bisa juga dilakukan dengan memperhatikan pola makan dengan mengomsumsi jenis makanan beragam dan seimbang
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi ibu hamil, bayi dan balita.
  • Mengatasi permasalahan anak yang susah makan dengan cara memberikan variasi makanan kepada anak.
  • Menjaga sanitasi lingkungan tempat tinggal yang baik bagi keluarga.
  • Memberikan edukasi dan penyuluhan bagi ibu hamil dan menyusui terkait stunting, pola asuh yang baik untuk mencegah stunting serta mendorong para ibu untuk senantiasa mencari informasi terkait asupan gizi dan nutrisi yang baik bagi tumbuh kembang anak.
  • Melakukan vaksinasi lengkap semenjak bayi lahir sesuai dengan anjuran dan himbauan IDAI.

Sedangkan  bagi balita yang di diagnosis sudah menderita Stunting dilakukan penanganan dengan melakukan :  terapi awal seperti memberikan asupan makanan yang bernutrisi dan bergizi, Memberikan suplemen tambahan berupa vitamin A, Zinc, zat besi, kalsium dan yodium serta melakukan edukasi kepada keluarga untuk menerapkan pola hidup bersih dengan menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Lhokseumawe ada 865 anak-anak menderita stunting tersebar di Kecamatan Banda Sakti 192 anak, Muara Satu 227, Muara Dua 235, dan Blang Mangat 211.

“Hasil penelurusan pemerintah kota Lhokseumawe meraka ini, sebagian besar dari kalangan masyarakat kurang mampu, disinilah perlu kolaborasi kita semua untuk membantu mereka karena pemerintah memiliki keterbatasan, untuk percepatannya semua pihak harus mengambil  peran” ajak Imran.

Strategi Kota Lhokseumawe Capai Zero Persen Stunting

Berdasarkan hasil pemetaan, terjadinya Stunting di wilayah Lhokseumawe karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan dan gizi, lingkungan yang tidak sehat dan, factor ekonomi serta akses terhadap fasilitas kesehatan.

Target sasaran pencegahan stunting adalah pasangan muda, ibu hamil dan masyarakat lingkungan semantara sasaran penanganan bagi yang sudah menderita stunting yaitu pasangan yang memiliki balita dan balita itu sendiri.

Berdasarkan sumber masalahnya maka rencana aksi yang akan dilakukan pemerintah Kota Lhokseumawe dalam pencegahan dan penanganan Stunting yaitu memberikan Edukasi tentang Kesehatan dan Gizi, melakukan vaksinasi, menyediakan makanan bergizi,  menjamin ketersedian sarana air bersih dan MCK (mandi, cuci, kakus), Kebersihan Lingkungan dan meningkatkan akses fasilitas kesehatan.

Edukasi Kesehatan dan Gizi

Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya.  Tidak banyak yang paham tentang stunting, anak yang tumbuh kerdil diyakini karena factor keturunan (genetic), tidak ada hubungannya dengan makanan bergizi.

Bahkan banyak juga keluarga yang belum memahami pengetahuan gizi sederhana, seperti empat sehat lima sempurna. Mereka juga masih awam tentang istilah-istilah kesehatan yang sebenarnya penting dalam kehidupan sehari-hari, misalnya protein, vitamin, karbonhidrat dan juga belum bisa membedakan jenis-jenis makanan yang masuk dalam kategori ini.

Pola asuh terhadap balita yang dilakukan selama ini berdasarkan warisan turun temurun menurut kebiasaan keluarga atau masyarakat lingkungannya.

Masyarakat  khususnya kaum ibu perlu diberikan pemahaman fungsi protein, karbonhidrat, vitamin dan apa saja makanan yang mengandung zat-zat tersebut, apa fungsinya dan sebagainya.

Puskesmas Bidan Desa dan relawan Posyandu di desa akan menjadi ujung tombak untuk melakukan edukasi terkait masalah ini, ditambah lagi dengan Tim Penggerak PKK mulai dari tingkat Kota yang dipimpin langsung Rosnelly, SKM, di Kecamatan hingga tingkat desa. Selain itu saat ini juga sudah disebar 204 pendamping keluarga di 68 desa yang ada di Kota Lhokseumawe.

Pemerintah juga akan memaksimalkan 101 Posyandu yang ada di Lhokseumawe dan melakukan penguatan kapaitas relawan di desa.

Selain itu di pada 6 Puskesmas yang ada di Lhokseumawe, tersedia tenaga dokter 58 orang, perawat 510 orang, Bidan 456 orang dan Gizi paramedic sebanyak 20 orang.

“ Potensi ini kita berdayakan untuk melakukan edukasi terus menerus kepada masyarakat, terutama dalam kegiatan Posyandu untuk mengedukasi ibu-ibu hamil dan menyusui, remaja dan pasangan muda yang baru menikah” ungkap Imran.

Program DAHSHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) salah satu bentuk edukasi bagaimana memasak makanan dengan nilai gizi seimbang.

Launching Program ini dilakukan Gampong Jawa, Kecamatan Banda Sakti, Selasa (9/5/23) oleh Pj. Walikota Lhokseumawe dibawah kendali  Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB)

“Ada banyak persepsi bahwa stunting hanya sekedar busung lapar, kekurangan gizi, kerdil, padahal stunting itu begitu luas. Mulai dari kekurangan gizi, gangguan postpartum termasuk perkembangan otak, melalui kegiatan ini kita coba berikan edukasi, DAHSHAT diharapkan menjadi wadah transfer ilmu ” sebut Imran

Saat peluncuran hadir juga Kepala Kejaksanaan Negeri (Kajari)  Lhokseumawe H. Lalu Syaifudin, SH,MH,  sebagai bentuk dukunganya terhadap program ini, bahkan ia dan Pj. Walikota ikut melakukan demo masak hidangan kaya gizi dan protein untuk ibu hamil dan bayi berusia 6-12 bulan dengan berbahan dasar kelor.

Kadis DP3AP2KB Kota Lhokseumawe Salahuddin, S.ST, M.S.M mengatakan DASHAT akan digelar di 24 Gampong di Kota Lhokseumawe  secara bergiliran di setiap gampong selama tiga bulan mendatang.

Vaksinasi

Apakah Imunisasi itu halal atau haram ? pertanyaan ini membuat Pj. Walikota Lhokseumawe kaget, saat ditanya oleh masyarakat ketika ia turun kelapangan. Artinya sebagai Kota yang pernah dijuluki Petro Dollar dan berada di pusat Kota  ternyata masih minim informasi kesehatan.

Padahal Imunisasi adalah pemberian vaksin pada seseorang untuk melindungi mereka dari penularan penyakit tertentu. Vaksin terbuat dari kuman yang sudah melalui proses pelemahan atau bahkan dimatikan. Vaksinasi anak akan menguatkan sistem kekebalan tubuh sehingga merangsang terbentuknya zat antibodi.

Pemberian vaksinasi akan melindungi tubuh anak terhadap infeksi sejumlah penyakit menular di masa mendatang. Tidak hanya menghindarkan anak dari serangan penyakit serius,  vaksinasi anak juga bisa melindungi masyarakat yang lebih luas. Hal itu karena imunisasi membantu meminimalkan terjadinya penyebaran penyakit.

Ada dua jenis imunisasi yaitu  imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar penting sebagai langkah pencegahan utama anak dari berbagai penyakit menular, sedangkan tahap lanjutan bertujuan untuk menjaga imunitas anak tetap optimal seiring bertambahnya usia mereka.

Jenis Imunisasi Dasar Anak terdiri dari Vaksin Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B yang menyerang organ hati, Vaksin BCG untuk mencegah penyakit tuberculosis (TBC)’ Vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus) untuk  memberi perlindungan terhadap tiga penyakit berbahaya tersebut, Vaksin Polio untuk mencegah penyakit polio yang sangat menular dan menyebabkan kelumpuhan permanen, Vaksin Hib untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe b (Hibyang bisa menyebabkan  meningitis pada anak-anak di bawah usia 5 tahun, bakteri ini bisa menyebabkan infeksi di telinga, paru-paru, darah, kulit, maupun persendian dan MR untuk melindungi anak-anak dari penyakit campak dan rubella dan beberapa jenis vaksin lainnya yang sangat bermanfaat bagi anak.

Semua fasilitas ini terseda gratis di Puskesmas dan Posyandu namun banyak juga masyarakat yang belum memanfaatkannya karena kurang paham sehingga ada pertanyaan halal atau haram?

“ Saya minta para Bidan yang bertugas di Posyandu dan juga tenaga kesehatan di Puskesmas melakukan edukasi tetnang vaksinasi ini sera intesif agar masayarakat paham, saya juga mohon kepada para  ulama agar melakukan sosialiasi masalah vaksinasi baik di mimbar Jum’at maupun dalam pengajian majels Ta’lim.

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Puskesmas, ada 47.186 anak di Kota Lhokseumawe yang menjadi sasaran imunisasi, realiasasinya sudah mencapai 83,1 persen, bahkan Pekan Imunisasi Polio yang dicanangkan pada Desember 2022 silam, realisasinya capai 99,7 persen,  ini semua tidak lepas dari dukungan semua pihak serta peran serta masyarakat” sebut Imran.

Dirinya juga meminta agar edukasi terkait imunisasi semakin digencarkan, dan tidak lagi memperdebatkan soal halal maupun haramnya imunisasi.

Makanan Bergizi

Agar asupan gizi balita cukup dan berimbang terutama untuk kalangan kurang mampu,  selain program DAHSHAT, Pemerintah kota Lhokseumawe juga mencanangkan program anak asuh khusus stunting  yang melibatkan seluruh pejabat, perusahaan dan beberapa instansi lainnya. Salah satunya Penjabat Wali Kota Lhokseumawe yang kini menangani 6 anak asuh berisiko stunting di Kecamatan Muara Satu dan Muara Dua.

“Kita telah memberikan intruksi kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengambil peran aktif dalam penanganan stunting, kepala dinas, kalau masih acuh tak acuh juga terhadap anak stunting ya nanti kita derek” kata Imran, Senin (31/7/23) pada acara peluncuran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tinggi protein berbahan pangan lokal untuk balita dan ibu hamil di Gampong Jambo Mesjid, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Imran juga mengintruksikan kader Posyandu agar tidak hanya melakukan timbang dan ukur badan, tapi juga dengan pemberian makanan tambahan serta vitamin kepada ibu dan anak, Dinkes wajib alokasikan anggaran khusus untuk keperluan tersebut, demikian juga dengan para keuchik didesa

“Jangan  ada lagi Posyandu yang tidak terurus" tegasnya

Air Bersih dan MCK

Penyebab Stunting lainnya yaitu Air bersih dan MCK juga menjadi perhatian Pemko Lhokseumawe, masih ada keluarga yang belum memiliki MCK dan daerah yang kekurangan air bersih.

Setiap rumah di Lhokseumawe dipastikan ahrus memiliki MCK yang sehat, dan akses air bersih yang lancar sehingga perlu di bangun MCK bagi keeluarga tidak mampu dan membangun sarana air bersih setidaknya yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat umum seperti sumur BOR dan lain sebagainya.

Disini butuh kerjasama dengan berabagai pihak termasuk anggota dewan agar bisa mengalokasikan dana pokok pikirannnya (POKIR).

"Dari DPRK walaupun tidak hadir, mohon dilaporkan juga bahwa stunting ini penting, bila perlu pokirnya juga itu dialihkan kesana. Supaya kita bergerak bersama untuk penanganan stunting," kata Pj Wali Kota Imran saat pembukaan rapat koordinasi (Rakor) rembuk stunting tingkat Kota Lhokseumawe tahun 2023 di Aula Kantor Wali Kota, Kamis (27/4/23).

Demikian juga dengan stake holder lainnya seperti Perbankan, BUMN dan Swasta agar bisa mengaloaksikan Dana CSR nya untuk keperluan Stunting.

Kebersihan Lingkungan

Untuk menajga kebersihan lingkungan, Pj. Walikota Lhoskeumawe menggagas Jum’at bersih. Seluruh OPD dan Forkopimda dilibatkan untuk melakukan pemebrsihan setiap hari Jum’at di loaksi berbeda di setiap desa.

Program ini diharapkan bisa menghidupkan kembali budaya gotong royong di setiap desa, dan meningkatny atanggungjawab masyarakat desa terhadap lingkungannya masing-masing.

pJ. Walikota bersama para kepala OPD dan Forkopimda turun langsung ke lokasi jum’at bersih bergotong royong bersama warga.

Akses Kesehatan

Untuk memudahkan akses kesehatan masyarakat, petugas kesehatan diminta tidak hanya menunggu namun harus menjemput bola.

“Faktor utama pemeriksaan ibu hamil yang tidak berkelanjutan, penanganan imunisasi ibu hamil dan gizi ibu hamil, faktor kedua pasca melahirkan bayi tidak peroleh imunisasi dasar lengkap. Pihak puskesmas jangan hanya menunggu dipuskesmas, harus turun ke lapangan jika tidak maka akan kita evaluasi,” kata Imran

Dinkes diminta memberikan perhatian khusus kepada Posyandu, tidak boleh lagi ada Posyandu yang terbengkalai atau tidak terurus. [Advetorial]