Banjir Aceh Utara Disebut Terparah Sejarah, Bupati Keluhkan Penanganan Masih Lamban

Banjir Aceh Utara Disebut Terparah Sejarah, Bupati Keluhkan Penanganan Masih Lamban
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil didampingi Plt Sekda Jamaluddin MPd dan Kepala Diskominfo Halidi MM memberikan penjelasan terkait penanganan banjir di Aceh Utara kepada jurnalis, Rabu (24/12/25). - Foto : Dok. Penulis

Aceh Utara — Sejumlah pejabat tinggi negara yang turun langsung ke lokasi terdampak menilai banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara sejak 26 November 2025 sebagai salah satu bencana terparah dalam sejarah Aceh. Bahkan, dari sisi luas wilayah terdampak, banjir kali ini disebut lebih besar dibandingkan tsunami Aceh 2004.

Meski demikian, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa mengeluhkan penanganan bencana yang hingga kini dinilai masih berjalan lamban dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Keluhan tersebut disampaikan Ayahwa dalam jumpa pers penanganan banjir Aceh Utara yang digelar di Oproom Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu (24/12/25).

“Sampai hari ini masih ada korban banjir yang mengungsi tetapi belum mendapatkan tenda yang layak. Masih ada kawasan yang terisolasi, padahal penanganan sudah hampir sebulan, tepatnya 27 hari,” ujar Ayahwa.

Sejumlah pejabat tinggi negara tercatat telah meninjau langsung lokasi banjir di Aceh Utara. Ketua MPR RI Ahmad Muzani, misalnya, mengunjungi Kecamatan Langkahan pada Sabtu (13/12/25). Dalam kunjungan tersebut, ia menyebut banjir Aceh Utara tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus sumber penghidupan masyarakat, terutama di sektor pertanian dan peternakan.

Ahmad Muzani mengungkapkan, dari total 27 kecamatan di Aceh Utara, sebanyak 25 kecamatan terdampak berat, sementara dua kecamatan lainnya terdampak ringan. Kecamatan Langkahan menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan paling parah akibat banjir bandang.

Selain Ketua MPR, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga meninjau korban banjir bandang di Kecamatan Lapang, Sabtu (13/12/25). Ia mengaku prihatin melihat kondisi Aceh Utara, terlebih sejumlah wilayah masih mengalami pemadaman listrik.

“Seumur hidup saya, belum pernah melihat banjir separah ini,” kata Zulkifli Hasan.

Penilaian serupa disampaikan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Muhammad Jusuf Kalla. Mantan Wakil Presiden RI dua periode itu menyebutkan, dari sisi luas wilayah terdampak, banjir Aceh Utara kali ini lebih parah dibandingkan tsunami Aceh 2004.

Pernyataan tersebut disampaikan Jusuf Kalla saat meninjau langsung lokasi terdampak banjir di Desa Bungkah dan Desa Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (19/12/25).

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago juga melakukan kunjungan kerja ke Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Jumat (12/12/25), didampingi langsung oleh Bupati Aceh Utara. Dalam kunjungan tersebut, warga korban banjir menyampaikan langsung berbagai keluhan, terutama terkait kebutuhan hunian sementara karena banyak rumah rusak berat bahkan hanyut diterjang banjir.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat meninjau korban banjir di Kecamatan Langkahan, Selasa (16/12/25), juga menyatakan bahwa banjir bandang yang melanda Aceh Utara tergolong parah. Sejumlah pejabat lain yang berkunjung ke daerah tersebut turut menyampaikan penilaian serupa.

“Semua pejabat yang datang menyatakan banjir Aceh Utara sangat parah. Namun hingga kini penanganannya masih lamban karena bantuan belum memadai,” ujar Ayahwa.

Ia menegaskan, hingga hari ke-27 pascabanjir, masih terdapat warga yang belum memperoleh tenda pengungsian layak, serta sejumlah kawasan yang masih terisolasi akibat rusaknya akses jalan.

“Tanpa dukungan dan intervensi kuat dari pemerintah pusat, penanganan dan pemulihan Aceh Utara akan membutuhkan waktu yang sangat lama,” tegasnya.[]