Bencana Banjir : Aceh Utara Tetapkan Status Tanggap Darurat
ACEH UTARA - Aceh Utara semakin tak berdaya menghadapi bencana banjir yang kian meluas, akibat curah hujan tinggi yang tak henti selama beberapa hari terakhir.
Kondisi ini diperparah lagi dengan meluapnya air dari Krueng (sungai) Pase, Krueng Keureuto, Krueng Peutou, Krueng Pirak, Krueng Ajo, Krueng Sawang, Krueng Jambo Aye dan Krueng Nisam.
Sarana, prasaran serta infrastruktur rusak, lahan pertanian, tambak, perkebunan dan pemukiman penduduk terendam banjir dan jaringan internet terganggu.
Akibatnya komunikasi, proses evakuasi dan distribusi logistik ke lokasi pengungsian terhambat.
Karena kondisi ini Pemerintah Aceh Utara meningkatkan status siaga bencana menjadi tanggap darurat bencana banjir, yang dituangkan surat Bupati Aceh Utara, H. Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa) Nomor 360/851/2025 tanggal 25 November 2025.
Tanggap Darurat berlaku 14 hari terhitung 25 November hingga 8 Desember 2025, dimana pemerintah akan fokus pada evakuasi dan penyelamatan korban serta distribusi logistik ke lokasi pengungsian.
Juru bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir dalam laporan tertulisnya, Kamis (27/11/25) melaporkan sampai dengan Rabu (26/11/25) pukul 10.30 WIB, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara 19 Kecamatan terendam banjir dengan jumlah korban mencapai 46.830 jiwa.
239 desa terendam banjir dengan rincian sebagai berikut :

Dari 46.830 jiwa atau 17.742 KK korban terdampak, 44.350 jiwa atau 14.713 KK berada di 35 lokasi pengungsian dimana 64 orang diantaranya ibu hamil, 490 balita, 526 orang lansia, 12 orang disabilitas.
Dalam laporanny Muntasir menyebutkan 13 unit rumah rusak berat, 67 unit rusak sedang dan 50 unit lainnya mengalami rusak ringan
Sawah terendam seluas 699 hektar di tambah lahan tambak 571 hektar.
Km Dan 9 lokasi tanggul sungai jebol dan 1 unit jembatan krueng sawang putus.
Kebutuhan saat ini bantuan evakuasi dan penyelamatan, makanan pokok, bantuan logistik masa panik dan alat berat untuk normalisasi.[]

