Dentuman Rapai Raja Buwah dari Aceh Utara yang Menggema hingga Mancanegara
ACEH UTARA – Suara dentuman Rapai Raja Buwah telah lama menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pase di Kabupaten Aceh Utara. Dentuman alat musik tradisional tersebut bukan hanya menggema di berbagai panggung adat dan budaya di Aceh, tetapi juga pernah tampil di tingkat nasional hingga internasional.
Grup Rapai Raja Buwah yang berasal dari Kemukiman Buwah, Kecamatan Baktiya Barat, selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok rapai legendaris di Aceh.
Grup tersebut kerap dipercaya tampil dalam berbagai agenda penting, mulai dari penyambutan Presiden Republik Indonesia, penyambutan Wali Nanggroe Aceh, hingga peringatan perdamaian Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki.
Tak hanya di tingkat lokal, Rapai Raja Buwah juga pernah tampil di Gedung Kesenian Jakarta pada 2023.
Sebelumnya, pada November 2022, grup tersebut ikut ambil bagian dalam International Ethnic Music Festival di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bersama sejumlah kelompok seni dari berbagai daerah dan mancanegara.
Di balik kemegahan penampilannya, Rapai Raja Buwah menyimpan sejarah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.
Untuk menelusuri asal-usulnya, sejumlah tokoh dan pelaku seni rapai di kawasan Raja Buwah diwawancarai, di antaranya Muhammad Yusuf (75), Abdul Hadi atau Apied Syekh selaku asisten syekh grup, serta Syekh Tayuddin (56), pimpinan Grup Rapai Raja Buwah saat ini.
Di antara puluhan rapai yang dimiliki grup tersebut, terdapat satu rapai tua yang diyakini telah berusia ratusan tahun dan dikenal dengan nama Rapai Raja Buwah.
Nama tersebut kemudian menjadi identitas kelompok seni itu, mengikuti nama wilayah Raja Buwah yang kini menjadi salah satu kemukiman di Kecamatan Baktiya Barat.
Muhammad Yusuf mengatakan, kisah pembuatan Rapai Raja Buwah diperoleh dari cerita para pendahulu, terutama Keuchik Te atau Muhammad Te yang pernah menjadi syekh Rapai Raja Buwah pada masa kejayaannya.
“Berdasarkan cerita Keuchik Te, Rapai Raja Buwah dibuat oleh Utoh Baha,” ujar Muhammad Yusuf.
Ia menjelaskan, pada masa itu Utoh Baha bersama sejumlah warga masuk jauh ke dalam hutan untuk mencari kayu pilihan yang layak dijadikan rapai. Sebelum menebang pohon, mereka terlebih dahulu melakukan ritual adat, mulai dari meminta izin hingga menunggu petunjuk melalui mimpi.
“Kalau dalam mimpi dianggap layak dijadikan rapai, baru dilakukan peusijuek. Itu bisa dilakukan berkali-kali, bahkan sampai tujuh hari,” katanya.
Kayu yang dipilih saat itu merupakan kayu tualang. Dari satu batang kayu besar tersebut, mereka berhasil membuat 12 badan rapai.
Bagian pangkal kayu dipahat dan diukir menjadi baloh atau badan utama rapai, sementara beberapa rapai lainnya kemudian diberi nama seperti Raja Muda Buwah dan Sidara Buwah.
Namun proses pembuatan rapai tidak berjalan sepenuhnya mulus. Saat pengerjaan rapai ke-12, serpihan kayu hasil pahatan mengenai mata kiri Utoh Baha hingga menyebabkan cedera. Akibat kejadian itu, pengerjaan rapai terakhir dihentikan dan mereka hanya membawa pulang 11 rapai setengah jadi dari tengah hutan menuju kawasan Raja Buwah.
“Kadang mereka harus menginap di hutan. Bisa sampai sebulan untuk menghasilkan rapai,” ungkap Muhammad Yusuf.
Setibanya di Raja Buwah, rapai-rapai tersebut kembali dipeusijuek sebelum memasuki tahap penyempurnaan. Bagian baloh kemudian dihias dengan ukiran garis melingkar untuk memperindah tampilannya.
Keistimewaan Rapai Raja Buwah tidak hanya terletak pada bahan kayunya, tetapi juga pada proses pemilihan kulit lembu yang digunakan sebagai membran atau penutup rapai.
Menurut Muhammad Yusuf, pemilihan kulit dilakukan secara khusus agar menghasilkan suara yang kuat dan bergemuruh.
“Kalau tidak salah, syaratnya saat itu harus lembu berwarna hitam dan matanya buta sebelah,” ujarnya
Kulit lembu tersebut kemudian dijemur selama enam bulan dan diasapi selama enam bulan berikutnya hingga benar-benar kering. Tingkat kekeringan kulit, kekuatan ikatan, serta tegangan pada badan rapai sangat menentukan kualitas suara yang dihasilkan.
Setelah bulu dibersihkan dan posisi kulit ditentukan, proses pemasangan kembali diawali dengan prosesi peusijuek yang dipimpin imam gampong atau tokoh adat.
Syekh Tayuddin mengatakan, tradisi peusijuek juga dilakukan sebelum grup tampil di hadapan masyarakat.
Menurutnya, ritual tersebut dipercaya menjadi salah satu faktor yang membuat suara Rapai Raja Buwah terdengar sangat kuat.
Bahkan, menurut cerita masyarakat, dentuman Rapai Raja Buwah pernah memecahkan kaca sebuah toko di kawasan Sampoenit, ibu kota Kecamatan Baktiya Barat, saat pertunjukan berlangsung.
“Setelah dicek, ternyata posisi lubang rapai mengarah ke toko yang berdinding kaca,” ujar Tayuddin.
Muhammad Yusuf yang ketika itu sudah menjadi anggota grup pada era Syekh Te turut membenarkan cerita tersebut.
Tak hanya itu, masyarakat juga pernah mengaitkan dentuman rapai dengan tumbangnya hamparan pohon talas di kawasan Lapang yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pertunjukan meuroh.
“Ini bukan tamsilan. Orang-orang yang melintas ketika itu mendengar bunyinya sangat kuat. Besok paginya dicek, ternyata pohon talas memang tumbang,” kata Syekh Tayuddin.
Meski mengakui karakter suara Rapai Raja Buwah saat ini berbeda dibanding era Syekh Te, Syekh Abdul Samadi, dan Syekh Raman, Tayuddin menegaskan grup tersebut tetap menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Pase.
Di tengah perkembangan zaman dan munculnya berbagai kelompok rapai baru di Aceh, Rapai Raja Buwah masih mempertahankan tradisi lama yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Raja Buwah, rapai bukan sekadar alat musik, melainkan simbol sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya yang harus terus dijaga.
“Dari sekian banyak rapai di Pase, Raja Buwah masih menjadi andalan,” pungkas Syekh Tayuddin.[]

