Kenapa Pj. Walikota Lhokseumawe Selalu Bicara Stunting

Kenapa Pj. Walikota Lhokseumawe Selalu Bicara Stunting
Pj. Walikota Lhokseumawe Dr. Drs. Imran., M.Si., MA., CD., bersama Istrinya Rosnelly menunjungi anak asuhnya di salah satu desa di Kota Lhokseumawe - Foto : prokopim.lsw
Kenapa Pj. Walikota Lhokseumawe Selalu Bicara Stunting

Disetiap pertemuan Pj. Walikota Lhokseumawe Dr. Drs Imran. M.Si.,MA., CD.,  selalu menyinggung persoalan Stunting, bahkan saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Rembuk Stunting tingkat Kota Lhokseumawe tahun 2023, yang berlangsung di Aula Kantor Wali Kota, Kamis (27/4/2023)  ia minta kolaborasi dan dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe untuk alokasi dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) dari dalam rangka penanganan dan penurunan stunting.

Secara khusus Imran menerima kunjungan Kepala BKKBN Pusat, Dr dr Hasto Wardoyo SPOG, Rabu (11/1/23) untuk membahas masalah stunting walaupun menurut data BKKBN angka stunting di Kota Lhokseumawe termasuk terendah dari 23 kabupaten /kota di Aceh yaitu hanya 27,4 persen.

Namun demikian Imran tetap focus pada penanganan stunting, dan akan melakukan pemetaan secara akurat katanya kepada kepala BKKBN.

Perhatian khusus Imran terhadap Stunting bukannya tanpa alasan. Pengalamannya bertugas  di kementeran dalam Negeri (Kemendagri) hampir 20 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Menteri Dalam Negeri membuatnya sangat paham arah visi Pemerintah Indonesia khususnya masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang hendak mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045 dengan pandapatan per kapita yang setara dengan negara maju, sehingga dapat keluar dari Middle Income Trap (MIT). 

Strategi yang digunakan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut yaitu mengubah pendekatan dalam membangun masa depan, dari reformatif menjadi transformatif, melalui tiga area perubahan, yaitu transformasi ekonomi, sosial, dan tata kelola.

Pada area transformasi ekonomi, pertumbuhan sebesar 5 persen yang saat ini telah dicapai, masih perlu ditingkatkan. Dengan skenario transformatif, diperlukan rata-rata pertumbuhan sebesar 6 persen agar tahun 2041 Indonesia dapat keluar MIT. Sedangkan dengan skenario sangat optimis, rata-rata pertumbuhan sebesar 7 persen agar tahun 2038 Indonesia dapat keluar MIT.

Potensi lain yang dimiliki Indonesia adalah jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan angkatan kerja sebesar 146,6 yang sering disebut bonus demografi. Saat ini Indonesia berada pada periode Rasio Ketergantungan Penduduk yang paling rendah (Puncak Bonus Demografi), yang terjadi hanya satu kali dalam sejarah peradaban suatu negara, sehingga hal tersebut harus bisa dioptimalkan.

Letak wilayah Indonesia yang strategis sangat menguntungkan dalam perdagangan internasional. Selain itu, pengaruh musim menjadikan Indonesia menjadi negara agraris, sumber daya alamnya melimpah  dengan kekayaan cadangan mineral yang sangat besar, peringkat pertama pemilik cadangan Nikel (21 juta MT), Bauksit peringkat ke-6 (1 miliar MT), Tembaga peringkat ke-7 (24 juta MT), Timah peringkat ke-1 (0,8 juta MT). Ini semua adalah potensi untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas pada 2045. 

Namun potensi itu menajdi tidak berarti jika produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya rendah. Karena itu upaya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah membangun  generasi emas di mana tepat 100 tahun usia kemerdekaan Indonesia generasi muda siap bersaing secara global diberbagai bidang karena itu generasi sekarang perlu disiapkan agar sehat secara fisik dan mental. 

Salah satu masalah sekarang yang ditemukan oleh pemerintah adalah Stunting yaitu gangguan pertumbuhan dan perekembangan yang dialami bayi atau anak akibat kekeurangan gizi kronis di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak ditandai dengan tinggi badan dibawah standard (pendek).

Menurut survey Status Gizi Nasional (SSGI) 2022, stunting 37 persen anak Indonesia mengalami Stunting pada tahun 2014, kemudian berhasil diturunkan menjadi 21,6 persen pada tahun 2022. Jokowi menargetkan turun  menjadi  14 persen pada tahun 2024.

Stunting merupakan salah satu penghambat terwujudnya generasi Emas 2045, karena itu Presiden sangat serius menangani stunting, tak heran jika dia marah saat mengetahui ada anggaran Stunting yang kurang tepat guna.

"Coba cek lihat betul untuk apa Rp 10 M itu yang nanti dibelikan telor, susu, protein, sayuran. Coba dilihat detil, saya baru saja liat minggu lalu saya cek, di APBD Mendagri," kata dia dalam Pembukaan Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2023, Jakarta, Rabu (14/6/23) silam.

Jokowi mengkritisi anggaran yang lebih banyak untuk perjalanan dinas PNS, rapat, dan hal terkait yang dinilai tidak krusial mencapai 8 milyar sementara untuk alokasi pengadaan makanan bergizi yang langsung dinikmati masyarakat hanya 2 milyar. Menurut Jokowi mestinya di balik lebih banyak alokasi anggaran yang berdampak langsung kepada keluarga yang mengalami Stunting.

Paham dengan visi Indonesia Emas ini, Imran selangkah lebih maju dalam menangani Stunting di Kota Lhokseumawe. Tak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan Daerah Kota (APBK) Imran melaunching  gerakan orang tua asuh anak Stunting dan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Mei 2023 lalu.

Bukan hanya sekedar mengajak ia juga menjadi bagian orang tua asuh bagi keluarga yang mengalami stunting di wilayah kerjanya.

Anak asuh  dalam binaannya sebanyak enam orang, dua anak dari Kecamatan Muara Satu dan empat  anak lainnya dari Kecamatan Muara Dua. Bersama Ketua TP PKK Rosnelly, SKM (istrinya) Imran secara rutin mengunjungi anak asuh binaannya.

“ Hanya menyumbangkan sedikit rezeki kita, membelikan makanan bergizi seperti telur, kacang ijo, susu untuk dikonsumsi, gak mahal kok” ujar Imran.

Dalam kunjungannya ke empat, Selasa (4/7/23) Imran dan Rosnelly kaget sekaligus senang melihat perkembangan anak asuhnya yang  menunjukkan perubahan positif, berat badan kembali normal dan wajah kembali cerah.

“Makanya saya himbau para kepala SKPK dan pejabat lainnya untuk menjadi orang tua asuhuntuk keluarga penderita stunting, ada tanggung agama dan tanggung jawab sosial bagi mereka yang mampu untuk membantu penderitaan warga, sekaligus kontribusi kita untuk mewujudkan Indonesia Emas” pesan Imran. 

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Lhokseumawe ada 865 anak-anak menderita stunting tersebar di Kecamatan Banda Sakti 192 anak, Muara Satu 227, Muara Dua 235, dan Blang Mangat 211.

dari 856 anak itu, 275 diantaranya sudah memiliki orang tua asuh mereka adalah para kepala Dinas, unsure Forkopimda dan ASN di Kota Lhokseumawe. Imran juga mengharapkan ada kalangan masyarakat dan perusahaan yang ikut berpartisipasi menjadi orang tua asuh sehingga masalah stunting di Kota Lhokseumawe bisa di atasi segera, target Imran Nol persen pada 2024.

Untuk penyaluran bantuan bagi anak penderita stunting seluruh orang tua asuh dapat  melakukan koordinasi dengan tim pendamping keluarga (TPK) yang berada di setiap desa, sehingga bantuan asupan yang disalurkan kepada penderita stunting bisa tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Peran orang tua asuh hanya melakukan intervensi selama tiga bulan di awal delanjutnya dilanjutkan tiga bulan kedua diperkirakan setelah enam bulan anak tersebut akan terbebas dari Stunting.

Dalam pemberian asupan makanan, hanya memberikan dua butir telur per harinya sudah cukup membantu. Dia mengimb au,apabila memberikan bantuan asupan makanan kepada anak-anak stunting, jangan diberikan dalam bentuk paket sebulan, ditakutkan bukan anak stunting yang memakannya. 

Pj Wali Kota  berharap dengan keterlibatan dan kerjasama seluruh stakeholder, maka stunting di Kota Lhokseumawe akan tuntas seluruhnya. [Adv]