Lima Tahun Tak Rampung, Petani Desak Kepastian Operasional Bendung Krueng Pase
ACEH UTARA – Setelah lima tahun sejak jebol akibat banjir dan melalui proses perbaikan berulang, Bendung Irigasi Krueng Pase yang berada di perbatasan Desa Lubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, dan Desa Maddi, Kecamatan Nibong, hingga kini belum juga difungsikan.
Kondisi tersebut memicu keresahan petani di kawasan Daerah Irigasi Krueng Pase yang masih menunggu kepastian kapan air kembali mengalir ke lahan persawahan mereka.
Ketua GEPEUBUT Aceh, Zulfikar Mulieng, mengatakan bendung tersebut memiliki peran vital bagi ribuan petani di Aceh Utara dan sebagian wilayah Kota Lhokseumawe. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi pembangunan fisik, melainkan kepastian fungsional.
“Petani mempertanyakan kapan bendung ini benar-benar difungsikan. Setelah diperbaiki, tentu yang dibutuhkan adalah kepastian kapan air bisa kembali dialirkan,” ujarnya, Jumat (3/3/26).
Ia menegaskan, keterlambatan pengoperasian bendung berdampak langsung terhadap pola tanam petani di sejumlah wilayah, seperti Matangkuli, Syamtalira Aron, Syamtalira Bayu, Tanah Luas, hingga sebagian Lhokseumawe yang masuk dalam daerah irigasi tersebut.
Menurut Zulfikar, kawasan itu merupakan salah satu sentra produksi padi di Aceh Utara yang berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan daerah. Karena itu, percepatan pengoperasian bendung dinilai sangat mendesak.
“Petani tidak hanya butuh proyek selesai secara fisik, tetapi harus dipastikan bendung itu berfungsi sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan,” tegasnya.
GEPEUBUT Aceh juga mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk segera memberikan penjelasan resmi terkait jadwal pengoperasian bendung, agar petani dapat menyusun perencanaan tanam secara pasti.
“Harapan petani sederhana, bendung ini segera dioperasikan sehingga air kembali mengalir dan aktivitas pertanian berjalan normal,” tambahnya.
Sementara itu, Junaidi, warga Kecamatan Tanah Luas, mengaku sebelumnya masyarakat mendapat informasi bahwa air irigasi akan kembali mengalir paling lambat akhir 2023. Namun hingga kini, hal tersebut belum juga terealisasi.
“Dulu katanya akhir 2023 sudah bisa dialirkan, tapi sampai sekarang belum juga. Kami tidak tahu kendalanya apa,” ujarnya.
Diketahui, Bendung Krueng Pase jebol akibat banjir pada 2020. Infrastruktur tersebut sebelumnya mengairi sekitar 8.922 hektare sawah di delapan kecamatan di Aceh Utara dan satu kecamatan di Kota Lhokseumawe.
Pada 2021, proyek rehabilitasi bendung mulai dikerjakan oleh PT Rudi Jaya dengan nilai kontrak Rp44,8 miliar dari APBN. Namun proyek tersebut tidak selesai hingga batas waktu pada akhir 2022.
Pemerintah kemudian melakukan tender ulang, dan pada Maret 2024 pekerjaan dilanjutkan oleh PT Casanova Makmur Perkasa dengan nilai penawaran Rp22,8 miliar. Meski pekerjaan telah rampung, bendung tersebut hingga kini belum dapat difungsikan.
Akibatnya, banyak sawah warga mengalami kekeringan. Petani terpaksa bergantung pada curah hujan yang tidak menentu, bahkan sebagian mengalami gagal tanam karena tidak adanya pasokan air irigasi. Situasi ini menambah beban petani di tengah harapan besar terhadap Bendung Krueng Pase sebagai penopang utama sektor pertanian di wilayah tersebut.[]

