81 Desa dalam 7 Kecamatan di Aceh Utara Terendam Banjir, Bupati Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana
ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menetapkan Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Alam Banjir, menyusul banjir yang melanda kawasan ini akibat hujan tiada henti sejak tiga hari terakhir.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Update Minggu (23/11/25) Pukul 24.00 WIB menyebutkan banjir merendam sarana dan prasarana serta infrastruktur publik, Sekolah, Dayah, Meunasah, Kantor Pemerintahan, tempat Usaha Kecil dan Menengah (UMKM), lahan pertanian, perkebunan, perikanan serta permukiman penduduk tidak dapat difungsikan, sebahagian penduduk telah menempati tempat-tempat pengungsian serta telah terganggu fungsi kehidupan dan penghidupan.
81 Desa dalam 7 kecamatan terendam air, korban mencapai 3.985 jiwa atau 2.481 KK, 1.592 jiwa atau 519 KK berada di 8 lokasi pengungsian, 54 jiwa di antaranya Ibu hamil 319 balita dan 89 lansia.
Adapun desa yang terendam, Kecamatan Tanah Jambo Aye 11 Desa, Seuneddon 16 Desa, Baktiya 43 Desa, Samudera 1 Desa, Langkahan 1 Desa, Syamtalira Aron 1 Desa dan Muara Batu sebanyak 8 Desa.
Dalam Surat Keputusan Bupati Bupati Aceh Utara Nomor 360/845/2025, yang ditandatangani oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, MM, Minggu (23/11/25) menyebutkan Status Darurat ditetapkan selama 54 hari terhitung 23 November 2025 Hingga 15 Januari 2026.
"Status ini bisa diperpanjang atau diperpendek, sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan" kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli dalam rilisnya yang dikirim ke Redaksi marjinal.id, Senin (24/3/25)

Penetapan status siaga bencana tersebut merupakan langkah penanggulangan bencana hingga awal januari mendatang agar memudahkan Pemerintah Daerah dalam berkoordinasi dengan BPBA, BNPB, Dinas Sosial Aceh, Kementerian Sosial serta instansi terkait untuk pemulihan.
Sebelumnya Bupati Aceh Utara sudah meninjau langsung korban banjir di beberapa titik pengungsian serta menyalurkan bantuan masa panik berupa bahan pangan dan kebutuhan harian lainnya.
Kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Aceh juga mengidentifikasi Aceh Utara sebagai wilayah berpotensi banjir, dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada November hingga Desember 2025.[]

