Tiga Murid Diduga Keracunan Menu MBG, Disdik Aceh Utara Tunggu Hasil Pemeriksaan dan Siap Evaluasi Penyedia
Aceh Utara — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Utara memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), selaku penyedia program Makanan Bergizi Gratis (MBG), usai insiden tiga murid SDN 6 Matangkuli yang dilaporkan tumbang setelah menyantap menu MBG, Senin (29/9/25).
Kepala Disdikbud Aceh Utara, Jamaluddin, M.Pd, pada Jumat (3/10/25) menjelaskan bahwa berdasarkan informasi awal, salah satu murid yang mengalami gejala lemas diketahui sudah sakit sejak dua hari sebelum kejadian.
“Dari keterangan orang tuanya, anak tersebut memang sedang kurang sehat.
Jadi belum bisa dipastikan apakah penyebabnya karena makanan atau karena kondisi kesehatannya sendiri,” ujar Jamaluddin.
Ia menambahkan, satu dari tiga murid tersebut telah menjalani pemeriksaan medis, dan hasil awal menunjukkan dugaan tipes.
“Kami mendapat laporan bahwa anak tersebut didiagnosa tipes, tapi untuk memastikan penyebab pastinya, kita masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak medis,” jelasnya.
Jamaluddin menegaskan bahwa Disdikbud Aceh Utara merupakan bagian dari tim pengawas pelaksanaan program MBG dan dirinya juga menjabat sebagai Sekretaris Satgas Percepatan Pelaksanaan Program MBG Kabupaten Aceh Utara.
“Setiap ada laporan insiden terkait MBG, kami langsung menerima informasi dan segera menindaklanjutinya,” katanya.
Menanggapi kejadian di Matangkuli, ia menekankan bahwa Disdikbud akan memperketat pengawasan di lapangan, termasuk pada proses distribusi dan pengolahan makanan.
“Program MBG ini merupakan program nasional yang sangat baik untuk peningkatan gizi anak sekolah. Namun, pelaksanaannya harus benar-benar diawasi agar tidak menimbulkan dampak negatif,” tegas Jamaluddin.
Ia juga menyebutkan bahwa evaluasi tidak hanya berfokus pada kualitas bahan makanan, tetapi juga memperhatikan faktor kesehatan, seperti kombinasi makanan yang dilarang atau dapat menimbulkan reaksi tertentu.
“Badan Gizi Nasional (BGN) sudah mengatur dengan jelas soal ini. Misalnya, ada bahan makanan yang tidak boleh dicampur, seperti semangka dengan susu. Aspek-aspek semacam itu juga menjadi perhatian kami,” tambahnya.
Selain memperkuat sistem pengawasan, Disdikbud Aceh Utara juga akan melakukan inspeksi rutin ke dapur-dapur penyedia MBG untuk memastikan kebersihan, mutu bahan, serta penerapan standar keamanan pangan.
“Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi bersama agar ke depan tidak terulang lagi,” ujar Jamaluddin.
Ia menutup dengan penegasan bahwa pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari tenaga medis untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
“Kita tidak ingin berspekulasi sebelum ada hasil final. Begitu hasilnya keluar, barulah kita ambil langkah tegas sesuai prosedur,” tutup Kadisdikbud Aceh Utara itu. [ ]

