Pertumbuhan Ekonomi Menguat, Sawah Jadi Penentu Kesejahteraan Rakyat
Ekonomi Indonesia terus menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026, naik dari 5,04 persen pada periode yang sama tahun lalu. Sepanjang Januari–September 2026, pertumbuhan kumulatif mencapai 5,45 persen, dengan produk domestik bruto atas dasar harga berlaku sekitar Rp6.741 triliun.
Seluruh lapangan usaha utama tumbuh positif, dari akomodasi dan makan minum yang melesat 11,22 persen hingga jasa keuangan 8,47 persen. Meski begitu, pertumbuhan yang tinggi baru bermakna jika dirasakan oleh mereka yang paling banyak menopang ekonomi: para petani. Karena itu, sawah layak menjadi tolok ukur kesejahteraan rakyat.
Indonesia Terus Bergerak Maju
Pertumbuhan itu ditopang investasi. Realisasi investasi Januari–September 2026 tercatat Rp1.539,2 triliun atau sekitar 75,4 persen dari target tahunan, dengan Rp528,7 triliun masuk pada kuartal III. Investasi tersebut diklaim menyerap lebih dari 2,19 juta tenaga kerja. Sekitar 50,6 persen di antaranya mengalir ke luar Pulau Jawa, tanda bahwa pembangunan perlahan menyebar ke daerah. Nilai hilirisasi pun mencapai sekitar Rp480 triliun, terbesar di sektor mineral.
Di sisi kesejahteraan, BPS melaporkan jumlah penduduk miskin per Maret 2026 turun sekitar 430 ribu orang menjadi 22,93 juta orang. Angka ini menunjukkan ikhtiar bersama mulai membuahkan hasil, walau pekerjaan rumah masih besar.
Pertanian: Tulang Punggung Ekonomi Rakyat
Pertanian tetap menjadi salah satu penyumbang terbesar ekonomi nasional, dengan kontribusi 13,46 persen terhadap PDB pada kuartal III 2026. Sektor ini menyerap sekitar 41,73 juta pekerja atau 28,20 persen angkatan kerja per Agustus 2026. Tidak ada sektor lain yang menghidupi orang sebanyak ini.
Di bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pemerintah menempuh sejumlah langkah: percepatan tanam, perbaikan irigasi, pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, cetak sawah, penurunan harga pupuk bersubsidi, mekanisasi, serta penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah. Menurut data BPS yang dikutip Kementerian Pertanian, produksi beras untuk konsumsi pada Januari–Agustus 2026 diproyeksikan mencapai 25,28 juta ton, sedikit di atas periode yang sama tahun lalu. Produksi gabah kering giling sekitar 43,89 juta ton dengan luas panen 8,35 juta hektare. Pemerintah menyatakan pasokan nasional surplus sehingga impor beras medium tidak diperlukan.
Bagi daerah lumbung seperti Aceh, ini bukan sekadar statistik. Harga gabah yang terjaga, pupuk yang lebih terjangkau, dan irigasi yang diperbaiki langsung menyentuh dapur petani.
Catatan Kritis yang Tak Boleh Diabaikan
Capaian itu perlu ditakar dengan jujur. Pada kuartal III 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh 0,46 persen, jauh di bawah pertumbuhan nasional. BPS juga memperkirakan produksi beras September 2026 sebesar 2,81 juta ton, turun 18,25 persen dibanding September 2025, yang dikaitkan dengan menurunnya luas panen pada akhir kuartal III.
Tekanan itu terasa di harga. Inflasi tahunan Oktober 2026 tercatat 3,23 persen, dengan cabai, beras, ayam ras, daging sapi, dan tomat menjadi pendorong utama kelompok harga bergejolak. Peneliti INDEF juga mengingatkan produktivitas pekerja pertanian baru sekitar separuh rata-rata nasional. Pertanian menyerap 28 persen tenaga kerja tetapi hanya menyumbang 13 persen PDB. Selama jurang ini lebar, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan keluarga petani.
Yang Perlu Dikerjakan
Pertama, menjaga kesinambungan tanam agar penurunan musiman tidak berubah menjadi persoalan pasokan dan harga. Kedua, memastikan irigasi dan infrastruktur pengendali banjir benar-benar sampai ke sentra padi, termasuk di Aceh Utara yang sebagian sawahnya masih bergantung pada hujan. Ketiga, memperkuat hilirisasi dan penyerapan hasil panen agar nilai tambah dinikmati petani, bukan hanya pelaku industri.
Pertumbuhan 5,47 persen adalah modal yang baik, dan arah kemajuan Indonesia patut diapresiasi. Namun, kesejahteraan rakyat pada akhirnya diukur dari sawah: apakah petani bisa menanam dengan tenang, menjual hasil dengan harga layak, dan hidup lebih sejahtera. Di situlah pertumbuhan ekonomi benar-benar terbukti.[]

