74.383 Siswa Terdampak Banjir di Aceh Utara, Puluhan Ribu Masih Mengungsi

74.383 Siswa Terdampak Banjir di Aceh Utara, Puluhan Ribu Masih Mengungsi
Bupati Ismail A Jalil yang akrab disapa Ayahwa mendampingi Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat meninjau kawasan pedalaman Aceh Utara, Selasa (16/12/25). - Foto : Dok. Ist

ACEH UTARA – Jumlah siswa yang terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara hingga Sabtu (3/1/26) mencapai 74.383 orang. Sebagian besar dari mereka masih bertahan di pengungsian yang tersebar di 210 titik pada 12 kecamatan.

Kondisi ini terjadi menjelang dimulainya kembali proses belajar mengajar semester ganjil yang dijadwalkan pada 5 Januari 2026. Ribuan siswa tidak hanya kehilangan perlengkapan sekolah, tetapi juga rumah beserta seluruh isinya. Bahkan, sebagian siswa kehilangan tempat tinggal orang tua mereka akibat rumah yang hanyut atau rusak berat diterjang banjir.

Dampak bencana juga dirasakan oleh tenaga pendidik. Sebanyak 9.071 guru dilaporkan turut terdampak, sehingga aktivitas belajar mengajar di sejumlah wilayah belum dapat berlangsung secara normal.

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE, MM, menyebutkan secara keseluruhan banjir telah berdampak pada 124.549 kepala keluarga atau 433.064 jiwa di Aceh Utara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 19.047 kepala keluarga atau 67.876 jiwa hingga kini masih mengungsi.

“Dari total pengungsi itu, sebanyak 48.861 orang merupakan siswa. Tentunya mereka membutuhkan perhatian khusus, terutama terkait perlindungan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta keberlanjutan pendidikan,” ujarnya.

Bencana banjir ini juga menimbulkan korban jiwa. Hingga saat ini, tercatat 226 orang meninggal dunia, sementara enam orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian. Selain itu, sebanyak 2.127 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Kelompok rentan yang terdampak meliputi 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lanjut usia, serta 513 penyandang disabilitas. Dari kalangan pendidik dan peserta didik, banjir ini juga merenggut korban jiwa, masing-masing satu kepala sekolah, satu guru, dua tenaga kependidikan, serta tiga siswa.

“Atas kondisi ini, kami sangat berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Pusat. Di satu sisi, kebutuhan dasar, pendidikan, dan layanan kesehatan harus segera ditangani, namun proses penanganannya masih berjalan lamban,” kata Ayahwa.

Ia menegaskan, penanganan dampak banjir di Aceh Utara membutuhkan sinergi semua pihak, mulai dari Pemerintah Pusat, pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, hingga masyarakat, agar seluruh korban mendapatkan bantuan dan perlindungan secara adil dan merata.[]