Pengrajin Gitar Akustik Rumahan Mampu Hasilkan Gitar Mirip Pabrikan dan Bertahan di Tengah Pandemi

Pengrajin Gitar Akustik Rumahan Mampu Hasilkan Gitar Mirip Pabrikan dan Bertahan di Tengah Pandemi
Adnan di bengkel kerjanya - Foto : Ajam
Pengrajin Gitar Akustik Rumahan Mampu Hasilkan Gitar Mirip Pabrikan dan Bertahan di Tengah Pandemi
Pengrajin Gitar Akustik Rumahan Mampu Hasilkan Gitar Mirip Pabrikan dan Bertahan di Tengah Pandemi

LHOKSEUMAWE - Berawal dari hobi bermain alat musik gitar, Adnan Andrea seorang pria di Desa Meunasah Masjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe,  kini mampu menghasilkan alat musik gitar akustik dengan kualitas yang tak kalah dengan gitar produksi pabrikan.

Namun sayang, kemampuan yang dimilikinya itu belum mendapatkan dukungan dari pemerintah, untuk pengembangan karyanya tersebut.

Adnan mulai menggeluti profesi sebagai pengrajin gitar akustik ini, sejak satu tahun terakhir. sebelumnya adnan hanya menerima jasa reparasi gitar dari orang-orang terdekat sambil bekerja di salah satu perusahaan swasta.

Namun berkat kegigihannya mempelajari teknik pembuatan gitar selama bertahun-tahun, dirinya berhasil membuat gitar akustik olahannya sendiri di rumah. tak disangka-sangka, alat musik gitar akustik buatannya tersebut  KINI banyak diminati oleh kaula muda, baik di Provinsi Aceh maupun luar daerah.

Gitar  akustik buatan tangan yang diproduksinya ini dinamakan “andrea”, nama tersebut diambil dari gabungan nama kedua buah hatinya Andre dan Dea.
Tidak ada bengkel khusus, gitar akustik  andrea ini diproduksi di depan kios yang menjadi tempat usaha sampingan miliknya, dengan modal peralatan tradisional yang serba terbatas. meskipun demikian, produk gitar akustik andrea yang dihasilkan memiliki suara merdu dengan tampilan yang elegan, tak kalah dengan gitar buatan mesin.

Karena keterbatasan modal peralatan itulah adnan hanya mampu menghasilkan tiga gitar dalam satu bulan. Biasanya gitar akustik yang di produksinya ini dipesan oleh konsumen dari Banda Aceh, Medan,  Solo, hingga Bandung dan Bali. dengan harga jual yang sangat terjangkau, mulai dari Rp.3 juta rupiah tergantung dari bahan baku yang mempengaruhi kualitas gitar.

Meskipun mampu menghasilkan gitar akustik yang memiliki kualitas tinggi, namun UMKM produktif rumahan milik Adnan ini belum mendapatkan angin segar dari pemerintah setempat.

Sejauh ini, Adnan belum menerima bantuan apapun yang digelontarkan pemerintah, untuk UMKM miliknya tersebut, apalagi ditengah kesulitan ekonomi akibat dampak pandemi covid-19 saat ini, yang membuat permintaan gitar akustik produksinya lesu.

Dirinya berharap adanya dukungan dari pemerintah, agar dapat mengembangkan UMKM miliknya ini, sehingga mampu memperkenalkan produk hasil tangan putra daerah, serta dapat membuka peluang kerja bagi para pemuda kreatif yang memiliki bakat di bidang musik. [Ajam]