1 Muharam: Momentum Hijrah Menuju Perubahan yang Lebih Baik

1 Muharam: Momentum Hijrah Menuju Perubahan yang Lebih Baik
Pawai Obor dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam. - foto : Dok. Ist

Tahun Baru Hijriah yang jatuh setiap 1 Muharam bukan cuma soal ganti kalender. Lebih dari itu, ini adalah momen penting bagi kita untuk jeda sejenak, menengok ke belakang dan bertanya: sudah sejauh apa kita berjalan, dan ke arah mana kita melangkah?

 

Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat. Itu adalah transformasi besar yang melahirkan peradaban baru sebuah masyarakat yang dibangun atas dasar iman, keadilan, dan kasih sayang. Tidak dengan kekuatan fisik, tapi dengan kekuatan nilai.

 

Di zaman sekarang, kita mungkin tidak lagi berhijrah dari satu kota ke kota lain, tapi kita tetap perlu hijrah dalam arti yang lebih dalam: berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kebiasaan yang merugikan menjadi gaya hidup yang lebih sehat, bermakna, dan memberi manfaat.

 

Hijrah itu personal. Setiap orang punya cerita dan prosesnya masing-masing. Ada yang berhijrah dari sikap malas ke semangat belajar. Ada yang berusaha meninggalkan ego dan gengsi demi hubungan yang lebih jujur. Bahkan ada yang mencoba untuk lebih jujur pada diri sendiri. 1 Muharam menjadi titik awal yang pas untuk semua itu.

 

Kita tahu, zaman sekarang serba cepat. Informasi datang bertubi-tubi. Kadang, kita terlalu sibuk melihat hidup orang lain di media sosial, sampai lupa melihat ke dalam diri sendiri. Di sinilah semangat hijrah penting: hijrah dari budaya saling menjatuhkan menuju budaya saling mendukung. Dari komentar negatif menuju kontribusi nyata. Dari sikap masa bodoh menuju empati dan kepedulian.

 

Lebih dari itu, semangat hijrah juga berarti menjaga kebersamaan. Kita hidup di Indonesia, tanah yang penuh keberagaman. Seperti Nabi membangun Madinah yang inklusif, kita juga harus belajar menerima perbedaan dan menjadikannya kekuatan. Hijrah dari semangat saling curiga ke semangat saling percaya.

 

Jadi, mari kita jadikan Tahun Baru Islam ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tapi benar-benar sebagai langkah awal menuju versi terbaik dari diri kita. Tak perlu langsung besar. Mulai dari hal-hal kecil. Dari cara berpikir, cara bicara, hingga cara kita memperlakukan orang lain.

 

Karena perubahan itu tidak harus drastis. Yang penting, ada niat dan aksi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?