Kayu Hanyutan Jadi Penopang Pemulihan Pascabanjir di Aceh Utara
Aceh Utara — Kementerian Kehutanan mengoptimalkan pemanfaatan kayu hanyutan akibat bencana hidrometeorologi sebagai bagian dari strategi percepatan pemulihan lingkungan serta penyediaan hunian bagi warga terdampak banjir di Aceh Utara dan Sumatera Utara.
Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 69 personel Kementerian Kehutanan dikerahkan dengan dukungan 38 unit alat berat.
Terdiri atas 30 unit milik Kemenhut, 7 unit bantuan TNI, serta 1 ekskavator dan 3 dump truck dari PUPR dan Kemenhut. Kegiatan difokuskan pada pembersihan serta pemilahan kayu di kawasan permukiman warga untuk dimanfaatkan sebagai material pembangunan hunian sementara (huntara).
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menyebutkan, hingga 11 Januari 2026, tim BPHL bersama Dinas LHK Aceh telah mengukur sebanyak 938 batang kayu hanyutan dengan total volume mencapai 1.506,08 meter kubik.
“Kayu hanyutan ini menjadi sumber material utama untuk mendukung pembangunan hunian sementara secara cepat dan terkontrol,” ujar Subhan.
Pemanfaatan kayu tersebut telah mendukung pembangunan 13 unit huntara. Dari jumlah itu, 3 unit telah selesai dan dihuni warga Desa Geudumbak, sementara 10 unit lainnya masih dalam proses pengerjaan. Selain itu, 50 personel Kemenhut juga melakukan pembersihan fasilitas pemerintahan desa, termasuk empat ruangan Kantor Keuchik Leubok Mane.
Sementara di Sumatera Utara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut Novita Kusuma Wardani menjelaskan bahwa penanganan kayu hanyutan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol kini memasuki tahap penatausahaan serta pemanfaatan.
“Fokus kami memastikan kayu hanyutan yang telah diolah benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan hunian warga dan tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan,” kata Novita.
Hingga 11 Januari 2026, kayu olahan dari wilayah Garoga tercatat sebanyak 1.376 keping dengan total volume 19,5755 meter kubik. Material tersebut diperuntukkan bagi pembangunan huntara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru. Dari jumlah itu, sebanyak 752 keping atau 9,9373 meter kubik telah diangkut ke lokasi pembangunan.
Selain pemanfaatan kayu, upaya pemulihan lingkungan juga dilakukan melalui normalisasi Sungai Garoga. Hingga saat ini, pekerjaan pembersihan sumbatan kayu dan normalisasi sungai telah mencapai sepanjang ±1,329 kilometer atau sekitar 25,07 persen dari total target 5,5 kilometer, dengan mengoperasikan tujuh unit alat berat.
Penanganan pascabencana ini menjadi bagian dari upaya terpadu Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah dan mitra terkait, guna memastikan kayu hanyutan sebagai barang negara dapat dimanfaatkan secara legal, aman, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.[]

