275 Lulusan Angkatan Terakhir IAIN Lhokseumawe Tahun 2025 Diwisuda
LHOKSEUMAWE – Sebanyak 275 lulusan Strata Satu (S1) dan Pascasarjana (S2) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe resmi diwisuda pada Kamis (25/9/25).
Prosesi yang berlangsung di Gedung Serbaguna kampus Alue Awe, Muara Dua, ini tercatat sebagai wisuda terakhir sebelum kampus tersebut resmi beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe.
Rapat senat terbuka yang dipimpin Rektor Prof Dr Danial, MAg, menandai kelulusan 275 mahasiswa, yang terdiri dari 9 lulusan Pascasarjana, 32 lulusan Fakultas Syariah, 105 lulusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FKIP), 29 lulusan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, serta 98 lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Transformasi IAIN menjadi UIN SUNA Lhokseumawe dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 56 Tahun 2025, yang ditandatangani Presiden RI Prabowo Subianto pada 8 Mei 2025.
Perubahan status ini menjadi babak baru perjalanan kampus yang telah melewati berbagai fase sejak berdiri pada 12 Juni 1969. Mulai dari perguruan tinggi swasta, kemudian menjadi STAIN Malikussaleh melalui Keppres Nomor 2 Tahun 2004, lalu berubah menjadi IAIN Lhokseumawe berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2016 pada masa Presiden Joko Widodo.
Dalam rentang 9 tahun 1 bulan berstatus IAIN, kampus ini telah melahirkan 6.613 lulusan. Wisuda kali ini pun menjadi simbol penutup pengabdian dengan nama IAIN, sekaligus tonggak awal perjalanan baru sebagai UIN SUNA Lhokseumawe yang menargetkan diri sebagai pusat pendidikan Islam modern dan berdaya saing global.
Prosesi ditutup dengan doa bersama dan penyerahan penghargaan kepada lulusan berprestasi. Suasana haru bercampur optimisme menyelimuti acara, mengingat ribuan alumni STAIN dan IAIN kini sudah berkiprah di berbagai bidang, baik pemerintahan, swasta, maupun sebagai wirausaha.
Rektor UIN SUNA Lhokseumawe, Prof Dr Danial, MAg, menyebutkan bahwa wisuda kali ini bukan sekadar momen kebahagiaan, tetapi juga catatan penting dalam sejarah kampus.
“Kita menutup perjalanan panjang sebagai institut, untuk kemudian melangkah lebih maju dengan status baru sebagai universitas,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi ini menjadi bukti kesungguhan lembaga dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi Islam di Aceh dan Indonesia.
“Gelar yang diraih para wisudawan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya di tengah masyarakat,” pungkas Prof Danial.[]

