Listrik Belum Pulih Sebulan Pascabanjir, Pemkab Aceh Utara Salurkan 40 Genset ke Pengungsian
Aceh Utara — Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyalurkan 40 unit mesin generator ke 40 titik pengungsian untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik warga terdampak banjir. Langkah tersebut dilakukan karena hingga sebulan pascabanjir, suplai listrik di sejumlah wilayah masih belum kembali normal, sementara ribuan warga masih bertahan di lokasi pengungsian.
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil, yang akrab disapa Ayahwa, mengatakan penyaluran generator merupakan upaya darurat guna memberikan penerangan dan menunjang aktivitas warga pengungsi, terutama pada malam hari. Namun, ia mengakui jumlah generator yang tersedia masih jauh dari kebutuhan di lapangan.
“Empat puluh mesin generator ini sangat tidak cukup. Jumlah titik pengungsian kita hingga saat ini mencapai 210 titik, sehingga masih membutuhkan tambahan genset,” ujar Ayahwa, Kamis (25/12/25).
Berdasarkan data PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), hingga akhir Desember 2025 masih terdapat sembilan desa di Aceh Utara yang mengalami pemadaman listrik total. Desa-desa tersebut meliputi Desa Riseh dan Paya Rubek di Kecamatan Sawang, serta Desa Langkahan, Leubok Pusaka, Matang Rubek, Seureke, Tanjung Dalam Selatan, dan Tanjong Jawa di Kecamatan Langkahan.
Ayahwa juga mendesak PLN agar mempercepat pemulihan jaringan listrik di wilayah terdampak banjir dengan mengerahkan kekuatan maksimal. Menurutnya, kondisi pengungsi yang harus bertahan tanpa listrik selama lebih dari sebulan sangat memprihatinkan.
“Kasihan rakyat. Sudah sebulan listrik padam di tenda-tenda pengungsian. Begitu ada mesin generator langsung kita bagikan. Minimal untuk sementara, PLN bisa membantu dengan penyediaan genset,” katanya.
Ia mencontohkan kondisi di Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, yang diperkirakan membutuhkan sekitar 10 unit generator untuk memenuhi kebutuhan penerangan di lokasi pengungsian.
“Kami berharap PLN segera mengirimkan tambahan mesin generator ke lokasi pengungsian agar warga setidaknya memiliki penerangan pada malam hari,” ujarnya.
Hingga kini, pemerintah daerah bersama instansi terkait masih terus melakukan penanganan darurat serta pemulihan pascabencana, sembari menunggu normalisasi infrastruktur dasar agar para pengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing.[]

